Juragan Nasi Kuning Itu Dulu Penjual Lemet Singkong

Oleh: Hijriyah Al Wakhidah/JIBI 28 Maret 2018 | 09:57 WIB
Juragan Nasi Kuning Itu Dulu Penjual Lemet Singkong
Herlina Widystanti

Bisnis.com, SOLO—Perempuan berusia 51 tahun ini ingat betul saat dirinya harus bertahan hidup dan bekerja keras membanting tulang menghidupi ketiga adiknya. 

Saat itu, Herlina Widystanti, namanya, baru duduk dibangku kelas 1 SMA Ursulin.

“Setiap pulang sekolah saya belanja singkong dan kelapa, malamnya saya bikin lemet singkong, kemudian paginya saya bawa ke sekolah saya jual di sekolahan. Waktu itu saya sedikit nakal karena jajanan itu saya jual sendiri di kelas, nggak saya titipkan di kantin, kalau titip di kantin, yang untung kantinnya dong,” kata Lina, sapaannya, saat berbincang dengan wartawan, Selasa (27/3/2018).

Tidak hanya jualan lemet singkong, perempuan yang 15 tahun terakhir sukses membangun bisnis kuliner bernama Tumpeng Solo pun, dulu kerap jualan lenjongan di kawasan Singosaren.

“Ya, dulu sekitar tahun 1986-1987. Kalau saya capek, saya ke Singosaren kan ada yang jual lenjongan, saya bungkus pakai plastik, lalu saya jual lagi, apapun yang bisa saya jual waktu itu ya saya jual. Yang jelas, waktu itu yang ada dalam pikiran saya setiap sore dan malam adalah adik saya besok makan apa, duitnya dari mana?”

Kondisi ekonomi keluarga yang kemudian memaksa Lina untuk menjadi pekerja keras. Ayahnya yang dulu seorang pengusaha konveksi harus bangkrut dan menanggalkan bisnisnya. Belum lagi, Lina dan ketiga adiknya harus jauh dari kedua orang tua yang kemudian memutuskan berpisah.

“Saat itu ayah saya hanya bilang, mulai bulan depan saya sudah nggak bisa sekolah lagi. Saya nangis dan saya nggak mau, saya harus tetap sekolah.”

Ibunya yang suka memasak menurunkan bakatnya kepada Lina. “Ya, jadi dari SMA itulah, dari masa-masa sulit itu saya bisa memetik hasilnya saat ini. Dari dulu kewajiban memberi makan adik-adik, kini menjadi ladang usaha saya,” ujar dia.
Dari sekadar jualan lemet, Lina yang memutuskan tak melanjutkan kuliah pun kemudian jualan jajanan pasar. “Dulu setiap pukul 04.00 WIB saya setor ke pedagang tenongan-tenongan itu.”

Usaha ini masih berjalan sampai sekarang meskipun Lina sudah punya Tumpeng Solo. Tumpeng Solo dia rintis sejak 2003. Dia mengontrak sebuah bangunan kuno di kawasan Pasar Beling Jl.Supomo untuk dijadikan sebuah restoran.

“Dan sampai saat ini pun status bangunan itu masih kontrak hlo, itu bukan milik saya.” Kendati demikian, Lina sedikit demi sedikit mulai ekspansi dan memperkuat bisnis kulinernya dengan membuka Tumpeng Solo di Jl.Yosodipuro.


“Yang di sini [Jl.Yosodipuro] memang tak seluas yang di Pasar Beling, tapi ini aset kami sendiri biarpun masih kredit.” Kenapa memilih menu tumpeng dan nasi kuning?

Lina mencoba melawan arus, saat itu. Dia ingin beda dengan tempat kuliner lain. “Orang Solo dulu tidak suka nasi kuning, sukanya nasi liwet. Apa bedanya? Wong sama-sama gurih.”

Imej nasi kuning yang sangat kental sebagai menu syukuran atau hanya untuk acara seremonial pun dia coba ditawarkan sebagai salah satu menu harian. Namun, ternyata usahanya tidak mudah. Butuh waktu tiga tahun untuk bisa membangun pasar.

“Dulu banyak sekali yang nggak mau sama nasi kuning. Mempromosikan nasi kuning nggak gampang. Setelah mereka mencoba, ternyata cocok, nasi kuning buatan Tumpeng Solo itu tidak banyak aroma rempahnya,” ujar warga Jajar, Laweyan, Solo.

Sekarang, dia dihadapkan pada tantangan banyaknya follower yang juga ikut mengembangkan kuliner nasi kuning. Bahkan ada yang mendompleng kesuksesan dengan ikut-ikutan memakai nama Tumpeng Solo.

Belum lama ini dia sempat mendapat komplain dari konsumen luar yang mengatakan baru saja pesan tumpeng Solo tapi rasanya lain. Setelah ditelusuri, ternyata konsumen tersebut membeli di tempat lain namun memakai nama tumpeng solo.

“Padahal nama Tumpeng Solo itu sudah saya patenkan. Saya sendiri bingung harus bagaimana, saya sudah minta tolong anak saya biar ibunya ini juga dibantu bagaimana agar branding Tumpeng Solo tidak ikut dipakai orang lain.”

Lina memastikan seluruh produk Tumpeng Solo baik di Yosodipuro maupun Supomo standar. Semua bahan masakan dan ukurannya sama sesuai porsinya masing-masing. Lina tak pernah meninggalkan timbangan saat meramu bahan masakan.

Lima belas tahun mengembangkan Tumpeng Solo, Lina pun tak memakai juru masak. Seluruh pesanan dia masak sendiri hanya dibantu beberapa karyawan.

“Kalau total karyawan saya semua 20 orang. Tapi saya nggak pakai koki, takut beda rasanya,” tutur dia yang sehari rata-rata bisa menjual 250-an porsi nasi tumpeng, baik pesanan maupun makan di restoran.

Darah kuliner Lina kemudian menurun ke anak-anaknya. Anak pertamanya yang kuliah Robitik di Swiss German University (SGU) tengah merintis Tumpeng Solo di Sulawesi.

“Ya, sekarang sedang merenovasi tempat di Sulawesi untuk jadi restoran Tumpeng Solo.” Sedangkan anak keduanya juga berkecimpung di bidang kuliner setelah menempuh pendidikan Manajemen Perhotelan dan Kuliner di Intenational Liaison University BSD. “Kalau anak ketiga masih sekolah SMA.”

Selain sibuk mengurus bisnis kuliner, perempuan yang mengaku hampir gagal membangun rumah tangga juga sibuk melayani pasangan yang juga terancam berpisah.

“Terlalu tinggi jika disebut konsultasi, saya ajak mereka bersama-sama belajar, saya dulu kan pernah mau gagal, orang tua saya juga gagal, kalau sampai gagal, kasihan anak-anak. Semua harus kembali kepada Tuhan, bahwa dua manusia yang sudah disatukan jangan pernah dipisahkan,” tutur dia sambil mengingat seandainya dia gagal berumah tangga, mungkin Tumpeng Solo tidak akan pernah ada.

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya