Debat Cagub Jateng, Ini Strategi Dua Paslon Hadapi Intoleransi & Kekerasan Beragama

Oleh: Yustinus Andri DP 20 April 2018 | 21:03 WIB
Debat Cagub Jateng, Ini Strategi Dua Paslon Hadapi Intoleransi & Kekerasan Beragama
Pasangan calon gubernur dan wagub Jawa Tengah Sudirman Said (kedua kiri)-Ida Fauziyah (kiri) dan Ganjar Pranowo (kedua kanan)-Taj Yasin (kanan) mendeklarasikan Kampanye Damai Pilkada Jateng 2018 di Kompleks KPU Jateng, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (18/2). Kedua pasangan peserta Pilkada Provinsi Jateng mendeklarasikan berkampanye damai, antihoax, antipolitisasi SARA, dan antipolitik uang. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, SEMARANG—Kasus intoleransi dan kekerasan beragama menjadi salah satu persoalan sosial yang muncul di Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jateng pun memiliki cara masing-masing untuk menanganinya.

Dalam sesi Debat Pilgub Jateng pertama yang digelar oleh KPU pada Jumat (20/4), pasangan nomor urut satu yakni Ganjar Pranowo-Taj Yasin menyebutkan salah satu kunci untuk menyelesaikan persoalan tersebut adalah dengan meningkatkan komunikasi antarumat beragama.

“Kami akan datang ke setiap daerah untuk terus membina komunikasi dan kerja sama antargolongan dan agama. Kalau perlu kami akan hadir dalam setiap Musrenbang untuk terus pelihara kerukunan antar golongan,” ujar Ganjar, Jumat (20/4).

Selain itu, Ganjar juga mengaku akan terus menguatkan peran kelompok-kelompok keagaman seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk terus menjalin dialog.

Sementara itu, pasangan calon nomor dua Sudirman Said-Ida Fauziyah mengklaim bahwa solusi untuk menekan konflik antargolongan dan agama adalah berusaha adil dan merangkul semua gologan dalam setiap kebijakan yang dibuat.

“Pemimpin harus hadir di tengah-tengah dan harus adil. Ini tidak mudah, karena pasti ada saja satu golongan atau kelompok yang merasa kurang dirangkul.Tetapi dengan metode dialog dan komunikasi yang baik, saya yakin anggapan-anggapan itu akan hilang,” ujar Sudirman.

Dia pun menjanjikan untuk mengangkat sekaligus mempertegas budaya masyarakat Jateng yangdiklaimnya memiliki sikap santun dan religius.

Seperti diketahui berdasarkan data dari Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) kekerasan beragama dan aksi intoleransi masih terus bermunculan di Jateng selama beberapa tahun terakhir. Tercatat pada 2014 terdapat 10 kasus, sementara pada 2015 mencapai 14 kasus dan pada 2016 mencapai 20 kasus.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya