Gap Pertumbuhan Industri Kecil Vs Besar di Jateng Mencolok

Oleh: Yustinus Andri DP 08 Mei 2018 | 16:53 WIB
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur/Reuters

Bisnis.com, SEMARANG—Gap pertumbuhan produksi antarkelompok industri manufaktur di Jawa Tengah rupanya masih cukup lebar. Kesenjangan tersebut terjadi antara golongan industri manufaktur besar dan sedang (IMBS) dengan mikro dan kecil (IMK).

Dalam laporan terbarunya, Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebutkan  pertumbuhan produksi IMBS Jateng pada kuartal I/2018 mencapai 6,04% secara year on year (yoy). Namun demikian pada periode yang sama, produksi IMK tumbuh 2,02% (yoy), kendati pencapaian tersebut lebih tinggi dari 2017.

“Masih ada gap yang besar. Idealnya pertumbuhan industri kecil dan mikro ini bisa sejalan atau terkerek oleh industri menengah dan besar, karena jumlah IMK yang besar di Jateng,” ujar Margo Yuwono, Kepala BPS Jateng, Selasa (8/5/2018).

Selain itu, lanjut Margo, berdasarkan hipotesisnya, kondisi itu terjadi karena keterkaitan rantai pasokan dan permintaan antara IMBS dengan IMK di Jateng sangat kecil. Alhasil, simbiosis mutualisme antarskala industri di Jateng tidak tercipta dengan baik.

Selain itu, dia juga melihat bahwa di Jateng cukup banyak pelaku IMK justru kesulitan mengikuti irama pertumbuhan bisnis dari IMBS. Pangsa pasar di sektor tertentu, masih dikuasai oleh para pelaku IMBS.

Hal itu setidaknya terlihat dari pertumbuhan IMK di sektor industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya yang naik 5,07% pada kuartal I/2018.

Sementara IMBS di sektor serupa pada periode yang sama berhasil tumbuh 12,63%. Capaian sektor tersebut bahkan menjadi yang tertinggi di golongan IMBS.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengakui bahwa sangat sedikit perusahaan IMBS di Jateng yang menciptakan hubungan industri berjaring dengan IMK, terutama dalam hal penyediaan bahan baku.

Pasalnya, mayoritas bahan baku IMBS didapatkan melalui aktivitas impor. Sementara itu, dalam hal pemasaran, baik IMK maupun IMBS di Jateng sama-sama berbasis ekspor. Alhasil, keterkaitan hubungan bisnis antara kedua golongan tersebut relatif kecil.

“Tetapi, yang patut dicatat, IMK secara konsisten masih terus tumbuh, meskipun belum semasif IMBS. Ini membuktikan bahwa sebenarnya persoalan besarnya gap produksi antargolongan industri ini tak terlalu menjadi masalah,” ujarnya.

Editor: Fajar Sidik

Berita Terkini Lainnya