ERUPSI MERAPI: Gas Sangat Panas Dorong Terjadinya Pijar Merah

Oleh: Newswire 24 Mei 2018 | 09:56 WIB
ERUPSI MERAPI: Gas Sangat Panas Dorong Terjadinya Pijar Merah
Puncak Gunung Merapi terlihat dari Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (22/5). Pasca letutsan freatik Gunung Merapi yang telah terjadi empat kali sejak Senin (21/5) hingga Selasa (22/5) dini hari, status Gunung Merapi naik dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II)./Antara

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Dorongan dari gas sangat panas pada magma memunculkan fenome pijar merah saat Ginung Merapi meletus.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi menyebut pijar merah yang terlihat saat terjadi letusan pada pukul 02.56 WIB bersumber dari dorongan gas yang berasal dari magma.

"Pijar tersebut menunjukkan adanya material dari dalam gunung. Kondisi itu terjadi karena adanya dorongan gas dari magma," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida di Yogyakarta, Kamis (24/5/2018).

Tanda tersebut menunjukkan jika fase erupsi freatik Gunung Merapi sudah berakhir, namun Hanik menyebut jika Merapi masih dalam tahap awal menuju proses erupsi magmatis.

Berdasarkan data pengamatan, sudah terjadi deflasi atau pengempisan di Gunung Merapi yang dapat dimaknai sebagai proses 'pengosongan' di dalam tubuh gunung. Pengosongan ini memungkinkan magma bisa bergerak secara mudah ke permukaan.

"Setelah terjadi pengempisan dan kosong, maka akan terisi," katanya.

Seperti diketahui, lanjut Hanik, Merapi dikenal sebagai gunung api dengan suhu yang tinggi dan memiliki lava yang encer sehingga pada saat keluar masih disertai dengan gas yang sangat panas.

Meskipun demikian, BPPTKG menyebutkan, proses erupsi magmatis tidak harus selalu dimaknai sama seperti erupsi besar yang terjadi pada 2010.

Erupsi yang terjadi pada 2006 juga masuk dalam kategori sebagai erupsi magmatis, begitu pula dengan erupsi yang terjadi sebelumnya atau pada 2002. "Erupsi magmatis juga terjadi di Gunung Kelud pada 2007 dengan munculnya kubah lava," katanya.

Oleh karena itu, Hanik berharap agar masyarakat tetap tenang dan selalu mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya.

Gunung Merapi yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah kembali mengalami letusan pada Kamis (24/5) pukul 02.56 WIB dengan durasi empat menit dengan tinggi kolom letusan mencapai 6.000 meter.

"Letusan kali ini memiliki amplitudo letusan yang hampir sama seperti letusan freatik yang terjadi pada 11 Mei meskipun durasinya lebih pendek," katanya.

Akibat dari letusan terakhir itu, sejumlah wilayah mengalami hujan pasir dan abu di antaranya Desa Tegalrandu, Sumber, Dukun, Ngadirojo, Banyubiru, Muntilan, Mungkid, Menayu, Kalibening dan Salaman.

"Material dengan butiran yang lebih besar akan jatuh di daerah dengan radius lebih pendek, sedangkan butiran yang lebih halus bisa terbawa lebih jauh," katanya.

Ia mengatakan, akan memetakan sebaran material vulkanik untuk kepentingan pemodelan.

Hingga pukul 08.00 WIB, status Gunung Merapi tetap dinyatakan waspada dan masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius tiga kilometer dari puncak.

"Masyarakat juga diminta mengenakan masker untuk mengurangi dampak abu. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi diharapkan untuk selalu siap dan mengantisipasi dampak bahaya abu vulkanik," katanya.

Sumber : Antara

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya