ERUPSI MERAPI, Begini Penuturan Juru Kunci Mas Kliwon Surakso Hargo

Oleh: Sunartono/JIBI 25 Mei 2018 | 09:13 WIB
ERUPSI MERAPI, Begini Penuturan Juru Kunci Mas Kliwon Surakso Hargo
Sejumlah warga berdoa bersama dan menghidangkan 12 macam nasi tumpeng dan tujuh obor saat Tradisi Ngetoke di Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (24/5). Tradisi dilakukan warga yang bertempat tinggal sekitar 3.5 km dari puncak Gunung Merapi itu bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa jika terjadi erupsi Gunung Merapi./Antara-Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, SLEMAN - Juru kunci Merapi mengingatkan warga lereng gunung teraktif di dunia itu agar lebih meningkatkan kewaspadaan seiring terjadinya letusan freatik hingga mengarah ke magmatik selama beberapa hari terakhir.

Juru Kunci Merapi Mas Kliwon Surakso Hargo atau biasa disapa Mas Asih tak dapat memungkiri rasa trauma menghadapi erupsi masih dirasakan warga. Hal itu terlihat jelas, ketika terjadi letusan freatik pertama pada Jumat 11 Mei 2018 pukul 07.40 WIB tersebut. Saat itu, ia bersama warga lereng Merapi akan menggelar nyadran di pemakaman kawasan Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Proses nyadran yang sedianya akan digelar dengan tahlil itu pun urung dilakukan. Karena Merapi bergejolak dengan mengeluarkan asap tebal, yang menurut catatan Badan Geologi Kementerian ESDM dinilai sebagai letusan freatik yang sama dengan tahun 1933.

Hari itu diakui Mas Asih menjadi awal warga lereng Merapi harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Rasa takut pun turut menghinggapi tak terkecuali dirinya. Saat nyadran belum dituntas, ratusan warga berhamburan meninggal Kinahrejo karena melihat semburan asap membumbung tinggi. Beberapa di antara warga yang baru perjalanan menuju pemakaman dengan membawa berbagai uba rampe makanan, kata Asih, terpaksa ditinggal di pinggir jalan untuk menyelamatkan diri.

"Saya tidak lari karena kondisinya waktu itu banyak motor, mobil dan lain-lain, saat itu saya sebisa-bisa memohon kepada Tuhan berdoa. Ya iya to yo [takut], karena saya juga menungso biasa e, yo wedi tetep ono rasa takutnya," ungkap Asih saat menceritakan kondisi warga ketika terjadi letusan freatik pertama, kepada JIBI, Kamis (24/5/2018) malam.

Putra almarhum Mbah Maridjan ini mengimbau kepada seluruh warga lereng Merapi untuk meningkatkan kewaspadaan, jangan panik dan diusahakan tidak takut. Agar ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dapat terselamatkan semua.

Asih menambahkan, siklus Merapi empat tahunan menjadi salah satu referensi bagi warga. Sejak erupsi 2010, telah lama tak bergejolak atau lebih dari empat tahun. Hanya saja, siklus tersebut kadang cocok dan kadang tidak karena hanya prediksi. Kesiapan dan kewaspadaan merupakan hal paling penting bagi masyarakat untuk menghadapi Merapi agar jangan sampai terlena.

Wilayah yang paling dikhawatirkan Asih adalah pemukiman terdekat atau paling utara, seperti Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul serta beberapa dusun di Umbulharjo yang belum memiliki huntap. Beberapa wilayah itu termasuk paling dekat dengan Meapi.
"Semoga tidak apa-apa, tetapi mereka [warga] harus tanggap dan paham akan kondisi Merapi. Kalau ada gejolak yang perlu diwaspadai harus tanggap, supaya nanti kalau ada sesuatu tidak panik dan takut," ungkapnya.

Ia turut melakukan pemantauan, terutama di kawasan lereng Merapi seperti Kinahrejo. Pemantauan itu dilakukan bersama para relawan Merapi. Terutama menjaga jika terjadi sesuatu menjadi tahu tindakan yang harus dilakukan.

Tak ada firasat apapun yang dirasakan Asih, sebelum Merapi mulai bergejolak sejak freatik hingga saat ini mengarah ke magmatik. Ia merasakan biasa-biasa saja. Terakhir kali, naik ke Srimanganti setelah upacara labuhan Merapi sekitar April 2018 lalu. "Biasa-biasa saja," ujarnya.

Sumber : Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya