DESTINASI KLATEN, Pesona Senja di Bukit Cinta Menggoda

Oleh: Cahyadi Kurniawan 28 Mei 2018 | 09:12 WIB
DESTINASI KLATEN, Pesona Senja di Bukit Cinta Menggoda
Pengunjung berswafoto di berlatar senja dan pemandangan dari Bukit Cinta di Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Klaten, Minggu (27/5)./JIBI-Cahyadi Kurniawan

Bisnis.com, KLATEN—Hilang sudah capai menaiki jalan terjal sejauh sekitar 500 meter dari dasar hingga puncak bukit.

Kaki pegal-pegal dan tenggorokan kering terbayar dengan hembusan angin sepoi-sepoi sembari menikmati lanskap kota yang terlihat membiru dari ketinggian.

Ari Wibowo, 30, harus berhenti beberapa kali menemani istrinya, Erlina Handayani, 22, yang kelelahan saat berjalan mendaki. Di gazebo kecil sepanjang jalan mereka duduk-duduk, bercengkerama. Sesekali pengantin muda itu beranjak untuk berfoto di lorong dari bambu yang diselimuti lebatnya pohon markisa.

"Capai sih. Tapi sampai sini semua terbayar. Rasanya lega," kata Erlina, seraya tertawa begitu sampai puncak Bukit yang dibuka tahun lalu itu.

Ari dan Erlina lantas menjajal beberapa objek foto bertema cinta, seperti gardu pandang cinta, sarang cinta, panah cinta, dan lainnya. Perempuan warga Dukuh Krenekan, Desa Krenekan, Ceper, itu merasakan perubahan drastis pemandangan Bukit Cinta dibanding kali pertama dibuka. Kesan gersang dan tandus sirna seiring penambahan sejumlah dekorasi seperti gazebo, koridor dari pohon markisa, jembatan cinta, dan lainnya.

Selain itu, ada pula deretan warung-warung menjajakan minuman dingin, sedangkan sisanya terlihat tutup. "Beda banget dibanding dulu. Saya lebih suka yang sekarang," sahut Erlina.

"Tapi memang pemandangan dari sini bagus ya. Anginnya juga asyik banget," sahut Ari yang mengaku kali pertama ke Bukit Cinta.

Ari sengaja ke Bukit Cinta bersama istrinya untuk jalan-jalan sembari menunggu buka puasa alias ngabuburit. Hal serupa juga dilakukan pasangan suami istri (pasutri) lain, Subagyo "Lentho", 34, dan Marlani, 23. Naik ke Bukit Cinta sore itu adalah pengalaman pertama bagi pasangan asal Desa Manjung, Kecamatan Ngawen.

"Capai sekali. Tapi begitu sampai di atas, semuanya mendadak hilang he-he-he," ujar Ucik, semringah. "Coba cedhak [rumah]. Kowe tak jak mrene ben dina sekalian nggo diet [Coba dekat rumah. Kamu saya ajak ke sini tiap hari sekalian diet," seloroh Subagyo kepada istrinya.

Hanya satu tujuan Subagyo dan Ucik datang ke bukit milik Perhutani, menikmati lanskap kota dari ketinggian. Pemandangan itu tak ia dapatkan di lokasi lain di Klaten. Hal itu masih ditambah dengan aneka dekorasi yang membikin suasana terlihat lebih romantis.

Bahkan, keduanya terlihat asyik berlama-lama berfoto di sarang cinta, sebuah dekorasi menyerupai sangkar burung dengan satu penyangga yang didesain mirip batang pohon. keduanya terlihat ber-wefie dengan latar matahari sore.

"Habis ini saya mau turun. Mau mencoba terapi ikan di bawah," tutur dia, lalu menggandeng istrinya menuruni bukit.

Seolah tak mau ketinggalan, pasutri Afgriyanto, 24, dan Ucik Susanti, 24, juga ikut menghabiskan senja dengan naik ke bukit di Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat. Tak tanggung-tanggung, Afgriyanto naik sembari menggendong si sulung, Ara, 2.
Sedangkan, istrinya harus menggendong Zahira, 8 bulan. "Wah, capainya double kalau sambil menggendong seperti ini. Tapi pas sampai atas ya lega. istilahnya cucuk-lah naik ke bukit," ujar pria asal Dukuh Bantengan, Desa Kaligayam, Kecamatan Wedi.

Seperti pasangan Ari-Erlina atau Subagyo-Ucik, Afgriyanto pun ber-wefie bersama istri dan kedua anaknya di gardu pandang cinta. ia lalu mencoba panah asmara, jembatan cinta, lalu duduk-duduk di gazebo, bercengkerama bersama istri dan anak-anaknya.
"Kalau sore seperti sangat pas suasananya, enggak panas, dan anginnya sejuk. Tapi mungkin kalau pagi lebih bagus lagi ya?" ujar dia, seolah menerka-nerka.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya