Pengusaha Logistik Desak Relokasi Gudang Kargo Bandara Ahmad Yani

Oleh: Yustinus Andri DP 07 Juni 2018 | 13:35 WIB
Pengusaha Logistik Desak Relokasi Gudang Kargo Bandara Ahmad Yani
Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Sugihardjo (kiri) meninjau pembangunan terminal baru penumpang Bandara Internasional Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (22/3). Berdasarkan data dari PT Angkasa Pura (AP) 1, pembangunan terminal baru bandara berkapasitas enam juta penumpang per tahun tersebut mencapai 63 persen dan diprediksi dapat difungsikan sebelum masa mudik Lebaran 2018 atau lebih cepat dari target semula yaitu akhir 2018./Antara

Bisnis.com, SEMARANG—Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) wilayah Jawa Tengah dan DIY  meminta kepada PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, untuk memindahkan gudang kargo ke lokasi yang lebih strategis.

Ketua Umum ALFI wilayah Jateng dan DIY Ari Wibowo mengatakan, usulan tersebut diajukan setelah terjadinya keterlambatan proses bongkar muat kargo pesawat menuju gudang kargo bandara. Kondisi itu terjadi setelah dipindahkannya aktivitas penerbangan komersial ke terminal baru, sementara gudang kargo masih berada di terminal lama.

“Kami mendapat laporan, memang banyak yang mengeluhkan kacaunya bongkar muat kargo menuju gudang kargo di Bandara Ahmad Yani. Makanya kita minta ke AP I untuk pindahkan gudang kargo ke lokasi yang lebih dekat dengan terminal baru,” ujar Ari hari ini Kamis (7/6/2018).

Menurutnya, dengan adanya terminal baru, barang-barang yang telah keluarkan dari pesawat harus diangkut kembali menggunakan truk menuju gudang kargo di terminal lama. Rute tempuh truk pengangkut yang panjang, dan belum siapnya sumber daya yang melakukan proses bongkar muat, menurut Ari, menjadi penghambat sekaligus memperlama proses tersebut.

Alhasil, lanjutnya, cukup banyak perusahaan ekspedisi atau kargo serta konsumen yang harus menunggu sangat lama untuk mendapatkan barang mereka.

Salah satu konsumen jasa kargo pesawat, yakni Rulli mengaku kerepotan dengan proses bongkar muat dan  pengangkutan barang dari pesawat menuju gudang.

“Saya harus bolak-balik ke gudang untuk menunggu empat barang saya, dari jam 10.00 pagi sampai 4.00 dini hari,” ujarnya.

Ari melanjutkan, berdasarkan kejadian tersebut, ALFI Jateng mendesak agar AP I memindahkan gudang kargonya ke lokasi yang lebih dekat dengan terminal baru Bandara Ahmad Yani.

“Semalam kami sudah rapat, mereka [AP I] setuju untuk mencari gudang baru di area yang lebih dekat dengan terminal baru. Paling cepat seminggu mereka sudah akan mendapatkan area gudang baru yang lebih dekat,” ujarnya.

Adapun, penggunaan gudang kargo di terminal lama disebabkan oleh masih dibangunnya gudang kargo yang baru, kendati layanan penumpang komersial telah dipindahkan ke terminal baru  per 6 Juni 2018. AP I sendiri menargetkan pembangunan gudang kargo tersebut akan selesai pada Oktober 2018.

 “Perkiraan gudang selesai Oktober 2018. Maka dari itu, sampai pembangunan belum selesai maka masih menggunakan terminal kargo yang lama,” ujar Kepala Satuan Kerja Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang Toni Alam.

Dia menjelaskan, aktivitas bongkar muat akan dibantu menggunakan truk yang akan menyambungkan terminal komersial baru dengan terminal kargo yang lama. Saat ini, lanjutnya, proses penyesuaian pun masih dilakukan oleh para petugas bandara.

Adapun, terminal baru Bandara Ahmad Yani telah mulai beroperasi pada 6 Juni 2018, setelah melakukan penerbangan dan pendaratan perdana.

Sementara itu, peresmian terminal baru yang tersebut dijadwalkan akan dilakukan pada Kamis (7/6), oleh Presiden Joko Widodo.

Seperti diketahui,  nilai investasi yang dihabiskan untuk membangun bandara tersebut mencapai Rp2,2 triliun dengan nilai investasi khusus untuk bangunan terminal baru mencapai Rp930 miliar.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya