Bulog Adopsi Sistem Baru Kontrol Udara Penyimpanan Bawang Merah

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 04 Juli 2018 | 13:41 WIB
Bulog Adopsi Sistem Baru Kontrol Udara Penyimpanan Bawang Merah
General Manajer Pura Grup Agung Sabani saat memberikan penjelasan, mengenai CAS kepada Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso./Bisnis-Alif Nazzala Rizqi

Bisnis.com, BREBES - Perum Bulog mengadopsi Sistem Pengkondisian Udara (Controlled Atmosphere Storage/CAS) di Komplek Pergudangan Klampok, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes sebagai upaya membantu petani dalam meningkatkan stok produk bawang merah.

Adapun, sarana penyimpanan bawang merah tersebut memiliki luas tanah 7.830m2 dan luas bangunan 3.686,81m2 termasuk gudang jemur bawang seluas 391 m2. Sarana penyimpanan bawang merah ini terbagi menjadi 20 kopel dengan kapasitas simpan masing-masing sebanyak 13,6 ton konde askip (bawang dengan daun) atau 16,32 ton rogol askip (bawang tanpa daun) di lokasi sentra produksi.

Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengatakan, dengan adanya alat ini maka stok bawang merah aman karena sanggup menampung bawang merah sebanyak 16,32 ton serta tahan sampai 6 bulan.

"Kami menjadikan Brebes sebagai percontohan karena di sini merupakan sentra penghasil bawang merah nasional. Dengan adanya alat ini maka penyusutan bawang bisa dikurangi," kata Budi di Gudang Penyimpanan Bawang Merah Klampok Brebes Rabu (4/7/2018).

Dijelaskan lebih rinci, sarana penyimpanan dengan pengkondisian udara yang akan dibangun merupakan kombinasi antara pendingin dengan teknologi pengkondisian udara yang mengontrol kadar kelembaban, oksigen, karbondioksida, nitrogen dan ethylene.

Secara umum, sarana penyimpanan tersebut mampu menghambat laju pematangan yang membuat produk pertanian yang disimpan dalam kondisi “mati suri”.

Budi Waseso menyampaikan, bahwa pembangunan sarana penyimpanan bawang merah CAS dimaksudkan untuk mengembangkan bisnis Perum Bulog serta dalam rangka penugasan Pemerintah untuk stabilisasi harga dan pasokan bawang merah di tingkat produsen (petani bawang) dan konsumen (masyarakat).

“Dengan sistem dan teknologi ini, bawang merah dapat disimpan tiga sampai enam bulan lamanya dengan nilai susut maksimal 10%”, tambah Budi Waseso.

Menurut Budi, setelah adanya alat ini para petani bisa mengenjot produksi bawang merah. Sebab, dengan sistem CAS petani tidak perlu risau bawang merah cepat susut akibat disimpan terlalu lama.

"Saya minta semua petani bawang merah di Brebes untuk menggenjot produksi bawang merah sebanyak mungkin. Jangan takut susut karena sudah ada teknologi CAS untuk mencegah penyusutan," tegas Budi.

Sementara itu, Bupati Brebes Idza Priyanti mengatakan, produksi bawang merah di Kabupaten Brebes mencapai 350.000 ton per tahun. Namun, masyarakat Brebes hanya mengkonsumsi bawang merah sebanyak 5.140 ton saja dalam setahun.

Menurutnya, petani bawang merah harus menjual hasil panennya langsung ke gudang Bulog. Hal ini, sebagai upaya menstabilkan harga bawang merah yang sempat anjlok beberapa waktu lalu.

"Jika nanti panen petani saya imbau menjual bawang merah langsung ke Bulog. Jangan ada yang menjual ke tengkulak ini untuk mengendalikan harga bawang merah agar tidak anjlok kembali," katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya