Mie Ayam Wajan, Ada Kreasi dan Sensasi Tersendiri

Oleh: Sri Sumi Handayani 10 Juli 2018 | 06:56 WIB
Mie Ayam Wajan, Ada Kreasi dan Sensasi Tersendiri
Penjual mie ayam "wajan" Putra Remaja di Jalan Solo-Sragen Kilometer 14, Nuryadi, meracik mie ayam pada wajan kecil, Sabtu (7/7)./JIBI-Sri Sumi Handayani

Bisnis.com, KARANGANYAR – Perempuan berkerudung, Wiwin Ambarsari, menggulung mie telur pada nampan biru secara tergesa-gesa.

Sembari menggulung mie, dia menengok ke arah meja kasir. Antrean pengunjung berkerumun di depan meja kasir. Setiap gulungan mie sebesar kepalan tangan orang dewasa. Mie itu akan dimasukkan ke dandang isi air panas apabila pelanggan memesan mie ayam.

Selesai menggulung mie, Wiwin mengecek pesanan pelanggan di meja kasir. Dia sambar nota berisi pesanan. Ada nomor di sudut kiri dan nama pemesan di kolom kanan. Lalu di kolom bawah tertulis pesanan. Mie ayam bakso, bakso, mie ayam, es teh, dan es jeruk.

Dia letakkan nota itu di tumpukan paling bawah sesuai urutan pesanan. Lalu tumpukan nota dijepit menggunakan ujung mata pisau.

Sementara itu, dua lelaki asyik memainkan sumpit, saringan mie, dan irus. Lelaki yang lebih tua, Nuryadi, bertugas mencampur bumbu dengan sawi hijau rebus dan mie yang sudah direbus pada dandang. Dia satukan tiga komponen itu pada setiap wadah saji.

Lelaki yang satunya bertugas memberikan topping irisan daging ayam berbumbu, kuah, dan bakso sesuai pesanan.

Kembali ke wadah saji. Mie ayam di warung Putra Remaja tidak disajikan dalam mangkuk beling. Mie ayam disuguhkan menggunakan wajan kecil. Wajan yang biasanya dipakai pembatik mendidihkan malam atau lilin. Wajan diletakkan pada tatakan dari kayu.

Tatakan menyerupai talenan yang dilubangi sesuai ukuran pantat wajan. Tatakan itu memudahkan orang makan mie di wajan tanpa khawatir oleng dan mie ayam tumpah.

"Kami bikin usaha ini saat lebaran hari kedua. Mie ayam dan bakso. Sebetulnya melanjutkan usaha yang dulu pernah dijalankan. Usaha [dulu] berhenti karena saya mengajar dan anak lelaki kuliah. Lalu muncul ide melanjutkan usaha lama dengan konsep kekinian. Ide anak saya [Idief Widiyatmoko] dan istrinya [Wiwin Ambarsari]," kata perempuan berkerudung yang bertugas di meja kasir, Widomayani, saat berbincang dengan JIBI, Sabtu (7/7/2018).

Anak dan menantunya "menjual" mie ayam di media sosial, Facebook, dengan nama mie ayam wajan. Itulah keunikan warung mie ayam di Jalan Raya Solo-Sragen kilometer 14. Lokasinya tidak jauh dari pintu tol Solo-Kertosono di Kebakkramat. Dari arah Solo, warung mie ayam wajan berada di sisi barat jalan. Ada banner diletakkan di tepi jalan, Mie Ayam Putra Remaja.

Satu jam JIBI berada di warung itu, puluhan orang didominasi buruh pabrik datang silih berganti. Tidak ada aktivitas mengobrol setelah makan. Mereka harus lekas pergi karena banyak yang sudah mengantre. Orang yang mengantre harus sabar menunggu tempat duduk.

Setelah dapat tempat duduk, menunggu pesanan datang. Harga seporsi mie ayam Rp7.000, mie ayam bakso Rp10.000, dan bakso Rp12.000. Warung buka pukul 11.00 WIB hingga 18.00 WIB. Tapi jangan datang pada Jumat karena tutup.

"Dahulu hanya menghabiskan 2-3 kilogram mie per hari. Kalau sekarang bisa 20 kilogram lebih per hari atau setara 400 porsi per hari. Saya enggak menyangka bisa serame ini. Mungkin karena konsepnya kekinian. Makan mie ayam di wajan," kelakar guru kelas 6 SDN 02 Sroyo Jaten itu.

JIBI menjajal mie ayam bakso. Satu porsi mie ayam ditambah dua butir bakso ukuran kecil. Ukuran mie tidak terlalu besar. Kematangan mie pas alias tidak terlalu lembek. Terasa lembut di mulut dan saat dikunyah. Kuahnya tidak terlalu kental sehingga tidak membuat enek. Bumbunya pas di lidah. Ada rasa gurih dan tidak terlalu manis. Anda dapat menyantap mie ayam ditemani sate telur puyuh bacem, tahu, kerupuk rambak jari, dan lain-lain.

"Bumbu itu yang meracik adik saya, Irfan Apriyadi. Dia pernah ikut orang jualan bakso dan mie ayam di Solo. Keluar lalu bantu usaha kami dengan membuatkan bumbu. Selain rasa, kami jual keunikan kemasan pakai wajan. Kami promosi pakai mie ayam wajan," ujar Wiwin Ambarsari.

Salah satu pembeli, Ernawati, mengaku kali pertama menjajal mie ayam wajan. Perempuan itu bekerja di salah satu pabrik di Karanganyar. Dia memanfaatkan waktu istirahat makan siang untuk menjajal mie yang gencar dipromosikan lewat media sosial.

"Lagi pertama mencoba ini. Lihat di Facebook dan dikasih saran teman. Penasaran sih. Ternyata lucu juga. Rasanya enak, enggak cuma penampilannya aja yang bagus. Pas porsinya. Balik lagi lah besok," ujar dia saat berbincang dengan JIBI.

 

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya