INSPIRASI WIRAUSAHA, Ngopi pada Ruang-ruang Personal

Oleh: Rheisnayu Cyntara 11 Juli 2018 | 09:47 WIB
Sasongko Pitoyo tengah menunggu pelanggan di omah kopi miliknya, Omah Sedulur akhir pekan lalu./JIBI-Rheisnayu Cyntara

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Ngopi sudah menjadi gaya hidup beberapa tahun terakhir. Kedai-kedai kopi menjamur. Akan tetapi urusan ngopi bisa jadi sangat personal.

Berangkat dari pemahaman itulah, Sasongko Pitoyo membangun tempat kopi dengan konsep rumah ngopi bernama Omah Sdulur sejak tujuh tahun lalu. Keinginannya menciptakan sebuah rumah, tempat banyak orang singgah dengan satu keinginan yang sama, menyesap secangkir kopi.

“Ada pelanggan Omah Sdulur ini yang lantas lulus dari studinya, berpindah ke kota lain, namun sekali waktu datang lagi ke sini dengan kawan-kawannya. Saya bahkan hafal, pelanggan saya yang itu sudah berganti pasangan, yang ia ajak sudah beda dengan yang sebelumnya. Pelanggan yang lainnya, akan segera dilamar oleh pacarnya. Macam-macam,” ujar Sasongko sambil terkekeh.

Begitu banyak kisah yang terkadang membuat orang yang mendengarnya terhenyak seakan tak percaya, betapa relasi antara pemilik omah kopi dengan pelanggannya dapat terjalin sedemikian eratnya.

Relasi itu terbangun karena pria paruh baya itu tak tak segan-segan menyapa dan ikut nimbrung, ngobrol ngalor ngidul bersama pelanggannya yang didominasi anak muda.

Omah kopi miliknya ditandai pendar lampu temaram yang kerap kontras dengan gelak tawa yang membahana, memantul-mantul pada dinding batako yang jaraknya hanya beberapa depa. Dari sudut ruangan, suara biji kopi yang tengah digiling terdengar nyaring. Harum kopi meruap, berbaur dengan aroma kretek di udara.

Teori suara ideal kedapi kopi 70 desibel tak berlaku di sana. Omah kopi yang berada tepat di pinggir jalan ramai ini tentu tak pernah sepi dari suara lalu lalang kendaraan bermotor melintas. Anda pun bebas saja mengobrol dengan suara bernada tiga oktaf.

Pilihan metode penyajian kopi yang ia sediakan pun hanya satu; tubruk. Di balik sudut kerjanya berupa etalase setinggi dada, ia hanya punya barisan toples kaca berisi 18 macam jenis kopi dari berbagai daerah di Nusantara, grinder, kompor gas, dan ketel untuk menyeduh air.

Tak ada deretan alat pengolah kopi yang beragam rupa yang lazim ditemukan di tempat ngopi ternama. Sasongko mengaku ingin menghadirkan pengalaman ngopi yang sesungguhnya. Pasalnya seluruh proses coffe cupping pun sebenarnya dilakukan dalam metode tubruk untuk memuculkan sebenar-benarnya rasa dan aroma kopi. Bertahan selama bertahun-tahun menyajikan kopi tubruk, hal itu lantas jadi signature yang terus melekat pada Omah Sdulur.

“Banyak pelanggan saya yang mengaku kalau pengalaman ngopi di sini sama dengan pengalaman mereka ngopi di rumah sendiri. Bahkan serupa pengalaman ngopi dengan Bapak mereka dulu, memori-memori personal itulah yang hadir lewat konsep omah kopi yang saya tawarkan,” tuturnya.

Sasongko pun memilih tak memasang koneksi internet di omah kopi miliknya. Ia ingin menularkan spirit bertemu dan bercengkrama dengan sesama manusia tanpa batasan virtual kepada para pelanggannya.

Mereka yang datang adalah mereka yang merindu obrolan tetap muka yang hangat sambil menghirup aroma secangkir kopi. Sasongko kemudian menunjuk pada televisi layar datar yang malam itu tengah menyiarkan film box office dari jaringan tv kabel dengan suara yang lirih, hampir tak terdengar.

Fasilitas itu menurutnya satu-satunya barang “mewah”—yang tentu saja masih kalah mewah dengan obrolan hangat—di omah kopi miliknya.

Meski makin banyak kedai-kedai kopi bermunculan, Sasongko pun tak lantas merasa tersaingi. Pasalnya ia membidik pasar yang berbeda dengan pesaingnya. Secangkir kopi Omah Sdulur yang harganya tak sampai belasan ribu itu memang ia tujukan pada pasar low-end yang menempati populasi terbesar.

Hal itu terbukti saat gerai kopi lainnya bertumbangan, omah kopi miliknya masih bertahan. Padahal Sasongko paham betul, Jogja tak punya budaya ngopi. Masyarakat Jogja lekat dengan budaya ngeteh panas legi kenthel atau biasa disebut “Nasgithel”.

Maka hampir 90% pelanggannya merupakan orang luar daerah, biasanya mahasiswa, yang menemukan rasa yang cocok di lidahnya lewat kopi nusantara yang Sasongko sajikan.

Di sisi lain, konsep yang mengedepankan sisi personal itu mampu menekan biaya produksi yang tinggi. Bagaimana tidak? Pria yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia perbankan ini, tak perlu repot-repot mengeluarkan banyak biaya untuk promosi ataupun menambah tetek bengek fasilitas yang tentu menelan biaya yang cukup menguras kocek.

Small is beatiful, gagasan ekonomi E. F Schumacher yang mengkritik habis-habisan konsep ekonomi kapitalis jadi pegangannya. Hitung-hitungan pemasaran dan ekonomi yang umum diterapkan para pebisnis kopi, tak ia akrabi.

Jika Omah Sdulur yang terletak di Jl. Prof. DR. Sardjito no. 8A, Yogyakarta ini lantas dikenal, Sasongko menyebut itu semua hanya berawal dari rekomendasi mulut ke mulut. Hal yang membuat para pelanggan betah dan selalu datang lagi, menurutnya tak lain karena perasaan sentimentil yang personal.

Lokasi rumah kopi milik Sasongko ini berada di utara Tugu Yogyakarta sekitar 700 meter. Lokasi ngopi tersebut juga terbilang dekat dengan kawasan kampus Universitas Gadjah Mada.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya