Pedagang di Pasar Semarang Enggan Berjualan Jengkol

Oleh: Imam Yuda Saputra 18 Juli 2018 | 08:14 WIB
Pedagang di Pasar Semarang Enggan Berjualan Jengkol
Pedagang sayur di Pasar Peterongan, Wartini, saat tengah menjajakan dagangannya, Senin (16/7/2018)./JIBI-Imam Yuda S.

Bisnis.com, SEMARANG – Penggemar masakan olahan jengkol di Kota Semarang tampaknya harus mulai menahan keinginan mengonsumsi buah ini karena harga meroket.

Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Semarang bahkan mengaku tak lagi menjual jengkol selama sebulan terakhir. Selain mulai langka, mereka enggan menjual karena harga jengkol yang terus meroket.

“Di sini sudah tidak ada lagi yang menjual jengkol. Harganya mahal sekali, malah takut enggak laku,” tutur seorang pedagang di Pasar Peterongan, Kota Semarang, Wartini, saat dijumpai JIBI, Senin (16/7/2018).

Wartini menyebutkan harga jengkol saat ini sudah menyentuh angka Rp55.000 – Rp60.000 per kilogram (kg). Harga itu juga baru berada di tingkat pemasok dari Bandar Lampung. Ia memperkirkan harga itu bisa semakin tinggi jika sudah sampai di tingkat pedagang.

“Saat ini pasokan dari Lampung agak berkurang. Mungkin itu yang membuat jengkol jadi mahal. Terakhir dapat kabar harganya dari Lampung sudah Rp55.000 per kg. Kalau sampai sini pasti bisa mencapai Rp80.000 per kg. Saya enggak berani kulakan,” tutur Wartini.

Pasar di Kota Semarang kerap menjual jengkol yakni di Peterongan dan di Pasar Karangayu.

Seorang pedagang Pasar Karangayu, Rukmini, juga mengaku mulai menghentikan usaha menjajakan jengkol. Harganya yang mahal membuatnya kerap tidak mendapat pasokan. Padahal, sebelum harga melonjak Rukmini kerap mendapat pasokan hingga 2 kuintal.

“Kalau biasanya [waktu normal] harganya Rp35.000. Kemarin pas puasa harganya juga segitu. Sekarang kok naiknya minta ampun. Saya jadi enggak berani beli,” imbuh Rukmini.

Rukmini memperkirakan langkanya jengkol akibat banyak petani yang gagal panen. Ia biasa mendapat pasokan jengkol dari wilayah Jawa Timur (Jatim).

Sulitnya ditemukannya jengkol di Semarang ini juga turut dirasakan pengusaha rumah makan, terutama Warung Makan Tegal, yang biasanya kerap menjajakan masakan olahan jengkol.

Seorang pemilik warung makan Tegal “Arman” di kawasan Pleburan, Kota Semarang, mengaku sudah hampir sebulan lebih menghapus semur jengkol dari daftar menu masakannya.

“Sulit sekarang mencarinya. Padahal pas puasa kemarin masih ada. Dulu belinya Rp35.000 per kg. Sekarang enggak pernah ada di pasar. Saya biasa beli jengkol di Pasar Peterongan,” tuturnya.

 

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya