Nilai Tukar Rupiah Tekan Industri Botol Plastik

Oleh: Lucky Leonard 27 Juli 2018 | 17:53 WIB
Ilustrasi/jordan-plastics.com

Bisnis.com, SEMARANG--Nilai tukar rupiah yang lemah terhadap dolar Amerika Serikat membuat industri botol plastik yang menggunakan bahan baku impor tertekan.

Founder Jordan Plastics Daniel Lukito mengatakan kurs sangat memengaruhi industri botol plastik. Pasalnya, sampai saat ini Indonesia masih banyak mengimpor bahan baku plastik.

"Setiap dolar dan harga minyak naik, bahan baku pasti cepat naik. Memang agak tertekan," katanya, Jumat (27/7/2018).

Dia mengungkapkan sebelum 2017 pihaknya mampu menggenjot pertumbuhan antara 30%-45% per tahun. Namun, memasuki 2017 pertumbuhannya turun menjadi satu digit saja.

Pada tahun ini, kendati nilai tukar rupiah sangat tertekan, dia berharap pertumbuhan perusahaan bisa kembali ke dua digit. Beberapa langkah peningkatan produktivitas pun telah dilakukan sejak awal tahun.

"Produktivitas kita perbaiki. Mulai kelihatan hasilnya dan harga bisa lebih efisien," tuturnya.

Selain itu, dia mencoba memperluas target pemasaran. Jika sebelumnya Jordan Plastics fokus di pasar mikro, kini akan diperluas hingga skala menengah.

Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng Bernardus Arwin mengatakan produk-produk manufaktur menjadi unggulan Jateng saat ini.

"Jateng kuat di manufaktur. Ini jadi target menarik bagi investor dan perlu kita dorong terus," ujarnya.

Namun, dia menilai dukungan industri penunjang dalam negeri masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, konten barang-barang penunjang umumnya masih impor.

"Yang dibutuhkan bukan hanya industri utamanya saja, tapi juga industri penunjangnya. Supporting industry kita masih banyak impor, sehingga mengurangi nilai competitiveness dari produk akhir kita," katanya.

Menurut Daniel apabila bahan baku industri manufaktur bisa dihasilkan di dalam negeri maka ongkos produksi pun bisa semakin efisien.

Arwin menjelaskan momentum kurs mata uang saat ini tidak bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh eksportir produk-produk manufaktur dari dalam negeri. Pasalnya, bahan bakunya masih banyak yang impor.

"Dari kurs, eksportir gak serta merta untung gede karena tergantung local content," tuturnya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya