BISNIS PERIKLANAN, Mencetak Untung di Tahun Politik

Oleh: Bayu Jatmiko Adi 30 Juli 2018 | 06:32 WIB
Karyawan di kantor Gage Design menyelesaikan pesanan cetakan, Sabtu (28/7)./JIBI-Bayu Jatmiko Adi

Bisnis.com, SOLO – Momen politik pada 2019 mendatang diyakini bakal berimbas pada industri percetakan dan periklanan.

Maklum saja pada momen politik lima tahunan, seperti pemilihan legislatif, perwakilan daerah maupun presiden banyak tokoh bakal berebut 'dikenal'. Alhasil media komunikasi seperti iklan, spanduk dan baliho bakal jadi salah satu media perkenalan.

Mengulik lebih jauh soal potensi periklanan, Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) menemui beberapa pengelola usaha percetakan maupun periklanan.

Marketing Support Biro Periklanan Dinamis Mediajateng, Bambang Sulistyono, mengatakan sempat menerima permintaan untuk menampilkan profil seorang politikus untuk tujuan pilpres.

"Saat itu sebagai calon wakil presiden. Ada juga yang tidak menampilkan partai politik. Tapi ketika ada tokoh yang meminta foto dirinya muncul di billboard atau baliho, ya ada kemungkinan itu sebagai bentuk pengenalan akan maju ke pileg atau yang lain," tutur dia saat ditemui JIBI di kantornya, di Kartasura, Sabtu (28/7/2018).

Namun saat ini pihaknya belum mendapatkan permintaan lagi untuk order profil seseorang. "Baru siap-siap, sudah ada yang tanya-tanya. Mungkin awal tahun nanti sudah ramai, terutama untuk rontek," kata dia.

Dia mengatakan dari lokasi papan iklan yang dimiliki Dinamis Mediajateng, sekitar 60% terisi dengan iklan produk.

Bambang mengatakan besar kecilnya dampak tahun politik terhadap usaha periklanan juga dipengaruhi oleh Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) untuk pileg atau pilpres 2019 nanti.

Menurutnya jika nantinya tetap ada pembatasan pemasangan alat peraga kampanye (APK), semisal baliho hanya satu di tingkat kabupaten atau spanduk di tingkat kecamatan dan sebagainya.

"Jadi kami belum bisa memprediksinya, masih menunggu aturannya seperti apa," kata dia.

Di sisi lain, dia juga berharap adanya sosialisasi secara menyeluruh yang melibatkan biro-biro periklanan ketika peraturan resmi sudah ada.

Pemimpin Dinamis Mediajateng, F.X. Diananto berharap segera ada kejelasan dari KPU soal pemasangan APK dalam bentuk billboard, spanduk dan sebagainya.

Dinamis Mediajateng memiliki sekitar 130 lokasi untuk billboard yang tersebar baik di Soloraya mauoun di sebagian Jawa Timur dan daerah lain. Sedangkan khusus untuk wilayah Soloraya terdapat antara 60-70 lokasi billboard.

"Kalau bicara lokasi mana yang difavoritkan, tentu lokasi-lokasi yang paling banyak dilalui orang. Misalnya di sekitar jalur Solo-Yogyakarta, Solo-Sragen, Solo-Boyolali dan sebagainya.

Pemilik percetakan Gage Design, Bambang Nugroho, mengatakan untuk sementara ini belum ada calon legislatif yang memesan spanduk atau produk lain. "Saat ini
kemungkinan masih menunggu daftar caleg tetap. Ini juga pasti masih menunggu dan melihat. Sebab ini akan bersamaan dengan pilpres. Tentu biasanya akan tandem. Masih menunggu calon presiden dan wakilnya, koalisi partainya dan sebagainya," kata dia saat ditemui di kantornya, Sabtu.

Diprediksi peningkatan pesanan APK akan mulai muncul saat daftar calon tetap dan nonor urut sudah ada. Namun begitu dia mengatakan tidak berharap banyak dengan tahun politik sekarang ini. Pasalnya, saat pemilihan gubernur beberapa pekan lalu, juga tidak berdampak banyak.

"Bagi kami pemain di iklan, saat pilgub pesta demokrasi tidak kelihatan, kebutuhan APK tidak per daerah tapi per provinsi. Jadi peran pemain lokal juga tidak ada," kata dia.

Namun dia berharap pada pileg 2019 nanti ada pola lain yang diterapkan. Misalnya saja, setiap caleg dibebaskan memasang APK sensiri dengan mengikuti aturan dari KPU. Bisa pasang di tanah milik pribadi dan tidak menggunakan fasum atau fasos dan tidak liar.

Menurutnya peluang besar justru akan muncul saat momentum perayaan hari kemerdekaan, 17 Agustus. Sebab dimungkinkan akan ada banyak spanduk yang dipasang panggung-panggung perayaan.

"Ini mungkin bisa menjadi panggung bagi para caleg yang mau maju. Meski belum ada nomor dan partau pengusung, yang penting wajah keluar dulu," kata dia.

Belum banyaknya pesanan panduk atau baliho untuk kebutuhan kampanye juga dirasakan oleh Tecma Advertising. Disampaikan Manager Finansial Tecma, Atik, sejauh ini Tecma lebih banyak melayani untuk produk-produk. Meskipun ada sempat ada pesanan untuk menampilkan profil seseorang dari kalangan politikus. "Tapi saat ini belum ada lagi," kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya