Promosi Agribisnis Jateng Catatkan Transaksi Rp32 Miliar

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 31 Juli 2018 | 14:10 WIB
Promosi Agribisnis Jateng Catatkan Transaksi Rp32 Miliar
Pengunjung menyaksikan pameran produk pertanian di arena Gelar Promosi Agribisnis (GPA) Soropadan VIII di komplek Agro Center Soropadan, Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (26/7)./Antara-Anis Efizudin

Bisnis.com, SEMARANG - Gelar Promosi Agribisnis (GPA) ke VIII Provinsi Jawa Tengah catatkan transaksi mencapai Rp32 miliar. Pameran yang berada di Kabupaten Temanggung tersebut menyedot minat masyarakat Jawa Tengah mulai dari 26 - 30 Juli 2018.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Yuni Astuti mengatakan, kegiatan tahunan ini sangat diminati masyarakat. Terbukti, selama penyelenggaraan pameran, tidak pernah sepi pengunjung.

“Pengunjung hari pertama Kamis (26/7) 16.000 orang, hari kedua 23.000 orang hari Sabtu karena weekend 48.500 orang lalu hari minggunya 47.000 orang sedangkan saat penutupan pengunjung capai 16.000 orang. Sehingga total pengunjung selama lima hari 149.500 pengunjung. Ini cukup baik," ujarnya Selasa (31/7/2018).

Selama lima hari pameran, kata Yuni, transaksi yang tercatat pun cukup bagus. Total transaksi yang dibukukan sebesar Rp32,417 miliar. Jumlah tersebut terdiri dari transaksi stan sebesar Rp2,18 miliar, nonstan Rp436,5 juta dan pasar lelang sebesar Rp29,8 miliar.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko menuturkan, event yang setiap tahun diselenggarakan ini menjadi ajang untuk mengevaluasi hasil-hasil pertanian di Jateng agar kualitasnya semakin baik, ketersediaannya mencukupi dan berdaya saing di tengah ketatnya persaingan di tingkat global.

“Agribisnis, yang namanya bisnis, termasuk bisnis untuk produk-produk pertanian, tidak terlepas dari persaingan. Tidak hanya persaingan antarwilayah, tapi juga persaingan global,” tuturnya.

Menurut Heru, Indonesia menjadi negara impor pangan tujuan dunia karena jumlah penduduknya yang besar. Di dunia, jumlah penduduk Indonesia menduduki ranking empat. Sehingga menjadi pasar potensial.

“Mereka mendesak kita terus. Kalau bisa ya udah orang Indonesia nggak usah makan beras, mi instan saja, supaya mereka bisa menjual gandumnya lebih banyak ke Indonesia. Kalau bisa orang Jateng tidak usah makan buah yang dihasilkan kita sendiri. Yang impor-impor saja. Yang seperti ini persaingan,” ujarnya mengingatkan.

Menyadari persaingan bisnis pangan yang ketat itu, dia tidak pernah bosan mengampanyekan konsumsi bahan pangan lokal. Tujuannya agar masyarakat lebih menggemari pangan produksi sendiri. Sebab, jika tidak dicegah berbahaya.

“Kalau tidak dicegah, maka yang paling senang importirnya. Yang lebih senang lagi adalah negara-negara yang memproduksi barangnya. Kalau kayak gitu kita kalah tidak bisa berdaulat. Malah dijajah dari sisi pangan,” katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya