Bahan Baku Impor Tinggi, Pengusaha Hati-Hati Cari Pasar

Oleh: Lucky Leonard 31 Juli 2018 | 17:15 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah./Antara-Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, SEMARANG -- Tingginya komposisi bahan baku impor dalam industri manufaktur di Jawa Tengah (Jateng) membuat pengusaha perlu berhati-hati dalam mencari pasar.

Ketua Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengungkapkan hampir 70% bahan baku untuk industri manufaktur di provinsi itu merupakan barang impor. Kondisi tersebut menjadi sangat tidak menguntungkan karena nilai tukar rupiah yang terus melemah.

"Hampir 70% kita impor bahan baku. Kalau jual semua ekspor ya enggak apa-apa. Kalau hanya bisa dalam negeri itu malapetaka," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (31/7/2018).

Menurut Frans, di tengah tekanan nilai tukar rupiah, pemerintah terus berupaya menjaga gairah industri di Jateng dengan memberikan berbagai insentif untuk industri-industri padat karya.

"Saya pikir pemerintah betul-betul perhatian, termasuk bagaimana mengendalikan dolar AS ini. Intinya, kami para pengusaha dan pemerintah saling membutuhkan," ucapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng Bernardus Arwin menyatakan produk-produk manufaktur kini menjadi unggulan Jateng. Hampir dua pertiga ekspor Jateng disumbang sektor industri manufaktur.

"Jateng kuat di manufaktur. Ini jadi target menarik bagi investor dan perlu kita dorong terus," tuturnya.

Namun, dukungan industri penunjang dalam negeri dinilai masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, konten barang-barang penunjang umumnya masih impor.

"Yang dibutuhkan bukan hanya industri utamanya, tapi juga industri penunjangnya. Supporting industry kita masih banyak impor, sehingga mengurangi nilai daya saing dari produk akhir kita," terang Bernardus.

Menurutnya, apabila bahan baku industri manufaktur bisa dihasilkan di dalam negeri, maka ongkos produksi pun bisa semakin efisien.

Sayangnya, momentum melemahnya nilai tukar rupiah saat ini tidak bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh eksportir produk-produk manufaktur dari dalam negeri. Pasalnya, bahan baku industri masih banyak yang impor.

"Dari kurs, eksportir enggak serta merta untung gede karena tergantung local content," imbuh Bernardus.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya

Berita Populer