Ganjar Minta Warga Melapor Bila Temukan Pemakan Nasi Aking

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 06 Agustus 2018 | 21:15 WIB
Ilustrasi./JIBI

Bisnis.com, SEMARANG – Kemarau panjang yang melanda Provinsi Jawa Tengah berdampak serius terhadap pertanian di Jateng. Untuk itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengimbau agar jangan sampai mengonsumsi nasi aking untuk menyambung hidup.

Dikatakan Ganjar, warga yang tinggal di daerah terdampak kekeringan dan kendala pangan untuk tak memakan nasi bekas yang dikeringkan itu karena alasan gizi. Pasalnya, nasi aking tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.

"Itu nasi bekas, jangan dimakan. Silahkan lapor ke saya kalau ditemukan kondisi seperti itu. Saya ingin seluruh warga Jateng semuanya hidup dan makan dengan layak tanpa menkonsumsi nasi aking," kata Ganjar Senin (6/8/2018).

Ganjar menambahkan, agar beralih ke umbi-umbian karena memiliki gizi yang cukup serta mengenyangkan. Sebab, umbi-umbian memiliki kandungan karbohidrat ketimbang mengonsumsi nasi aking.

Dia menjelaskan, bahwa umbi-umbian merupakan bagian dari diversifikasi pangan yang digalakkan pemerintah selain beras. Pengolahan tanaman ini, lanjutnya, juga saat ini terus dikembangkan hingga memiliki bermacam varian rasa.

"Saya anjurkan makan tiwul kalau tidak ada beras. Itu enak dan sehat. Yang penting jangan tidak makan," tambahnya.

Seperti diketahui, provinsi Jawa Tengah sejak sebulan terakhir dilanda cuaca kemarau yang berujung bencana kekeringan ekstrem. Berdasarkan data BPBD Jateng, ada ratusan kecamatan dan desa di 21 Kabupaten/Kota yang terdampak. Terparah yakni Kabupaten Grobogan, disusul Kebumen, Purworejo, Sragen, dan Cilacap.

Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng menyalurkan lebih dari 8 juta liter air bersih. Langkah ini dilakukan, untuk mengatasi kekeringan yang melanda 21 kabupaten/kota seluruh Jawa Tengah

Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan, pihaknya telah mengirimkan sebanyak 1.770 tanki air bersih ke total 112 kecamatan dan 276 desa terdampak. Jumlah itu pun telah bertambah sejak penghitungan akhir bulan Juli 2018 lalu.

"8 juta liter lebih air sudah terkonsumsi untuk masyarakat. Ini tentunya di luar kebutuhan untuk area pertanian. Saya lihat di media, sudah mengalami kendala tadi pertanian tembakau, kurang air bersih," ujarnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya