FEATURES Kaminem Berkurban Berkat Sapu Lidi

Oleh: Uli Febriarni 08 Agustus 2018 | 08:52 WIB
FEATURES Kaminem Berkurban Berkat Sapu Lidi
Kaminem.

Bisnis.com, KULON PROGO – Begitu banyak umat muslim ingin turut berkurban di hari raya Iduladha, baik itu dengan kambing maupun sapi. Namun tak semua orang bisa lekas mewujudkannya karena sejumlah kendala, salah satunya tipisnya kantong dan minimnya saldo tabungan.

Bagi Kaminem, sejumlah kendala itu harus diatasi karena 'berbagi' baginya dan almarhum suaminya merupakan mimpi yang harus diwujudkan.

Di teras sebuah rumah salah satu sisi Kecamatan Galur, pada siang hari yang semilir, Kaminem sedang mengenakan kebaya brukat hitamnya yang dilapisi furing satin berwarna violet, salah satu gradasi dari ungu. Bawahan kain batik parang rusak kusuma berpadu kawung sen, membalut tubuhnya yang menampilkan ketuaan.

Namun menatap sinar mata dan senyum di bibirnya, rona-rona kecantikan masa mudanya sekilas tampil dalam wajah nenek 10 cucu dan tiga cicit itu. Di tangannya ada beberapa lembar blarak tua (daun kelapa) yang telaten diseritnya, agar terpisah antara daun dan tulangnya, kemudian menjadi batangan lidi. Dijatuhkannya satu per satu batang lidi itu ke lantai terasnya, sejenak Kaminem menyambut para wartawan yang ingin berkenalan dengannya.

Bagi warga Dusun Nepi, Desa Kranggan, Kaminem bukan hanya dikenal sebagai nenek yang biasa-biasa saja, melainkan tetangga yang istimewa. Sejak tujuh tahun belakangan, perempuan kelahiran 73 tahun lalu itu berjualan sapu lidi. Tahun ini, berkat dagangan sederhananya itu, ia akan menjadi salah satu orang yang berkurban sapi.

Kaminem genap 100 hari menjanda, ditinggalkan suaminya yang bernama Yatno Suharto atau Yatiman, yang berpulang lebih dahulu. Berpulang sembari meninggalkan mimpi manis berdua, berkurban sapi pada Iduladha.

"Sudah cita-cita bersama suami, uangnya mau untuk kurban kalau sudah banyak, sekarang sudah cukup. Dulu-dulu kan belum punya uang, untuk biayai anak sekolah, makan," ungkap Kaminem sembari terus menyerti blarak, Minggu (5/8/2018).

Potongan lidi yang sudah cukup banyak di lantai dikumpulkannya, lalu disatukan dalam satu buket dan diikat cincin dari tali berwarna-warni. Sapu-sapu lidi hasil karya Kaminem dibagi dua jenis, ukuran panjang dan pendek. Sapu lidi ukuran pendek dijualnya seharga Rp2.000 sedangkan yang lebih panjang Rp3.000.
Kaminem mengumpulkan hasil penjualan sapu lidi sedikit demi sedikit, tentunya setelah dikurangi untuk membiayai makan sehari-hari. Selain itu, berprinsip lebih baik berusaha menjual sapu lidi, daripada menganggur.

Tapi seperti umumnya kegiatan perdagangan, tak setiap hari sapu lidi miliknya laku terjual. Tak setiap hari juga ia bisa membuat sapu lidi dalam jumlah besar. Bila sebelumnya ia kuat membuat lima buah sapu lidi, kini ia hanya mampu membuat satu atau dua sapu lidi saja.

"Sudah tidak kuat, ini itu sakit," kata ibu lima orang anak itu, sembari menepuk-nepuk bahunya.

Ia juga sempat berjualan bumbu masak di beberapa pasar sekitar rumahnya, tapi kini aktivitas itu sudah ia hentikan, lagi-lagi karena pengaruh usia yang membuatnya tak mampu melakukan pekerjaan berat. Penglihatan Kaminem juga terbatas, bola mata sebelah kanan sudah diangkat lewat operasi karena infeksi akibat penyakit glukoma yang dideritanya.

"Kalau tidak dioperasi, katanya nanti jadi kanker," ucapnya.

Baginya, berhasil mengumpulkan uang untuk berkurban bukan hanya sekadar senang. Melainkan juga harus dilengkapi dengan syukur mendalam. Karena dengan uang yang tak seberapa itu, ia sempat hampir saja mengorbankan tabungan untuk kebutuhan lain. Tapi, perempuan yang satu ini punya komitmen kokoh, ia selalu berusaha kuat menambah tabungannya itu.

Anak muda yang tak pernah mampu menabung boleh iri dengan Kaminem, yang di tengah keterbatasannya dan sisa-sisa tenaga tuanya masih punya keinginan untuk berangkat haji.

"Tapi biayanya kan besar, saya hanya mampu berkurban. Alhamdulillah, lega bisa berkurban, kalau ada uang lagi, saya ingin ikut berkurban lagi [tahun berikutnya]," terang Kaminem, kepalanya menunduk. Wajahnya jelas tak dapat menyembunyikan rasa syukur dan haru yang berbaur menyatu.

Seorang warga, Din Subandini mengaku mengenal Kaminem sebagai lansia yang luar biasa menginspirasi warga. Berkat usahanya perlahan namun pasti, bisa mewujudkan cita-cita berkurban di hari Iduladha. Belum lagi, Kaminem dikenal sebagai jamaah yang tak pernah absen berada dalam saf salat lima waktu di masjid At Taubah, Dusun Nepi.

Ketua Panitia Kurban Masjid At Taubah, Wachid Purwosubianto tak kalah terkejut dengan warga lainnya, saat mengetahui Mbah Minem berhasil menjadi peserta kurban sapi pada Iduladha tahun ini.

Mbah Minem terang-terangan diketahui sebagai salah satu penerima bantuan ekonomi pemerintah, mulai dari zakat hingga beragam program bantuan sosial. Namun, saat waktu itu telah tiba, beberapa pekan lalu, Kaminem datang padanya membawa sebungkus kresek hitam berisi uang. Kata Kaminem, uang itu sengaja disetorkan untuk mendaftar ikut kurban.

Uang di dalam kresek tersebut banyak yang lecek, didominasi oleh uang kertas, beberapa di antaranya merupakan uang cetakan lama. Setelah dihitung teliti, total uang dalam kresek Mbah Minem berjumlah Rp3,05 juta. Mencukupi syarat sesuai kewajiban bagi tiap warga yang hendak berkurban sapi secara berkelompok. Kenyataan ini membuat warga dusun tersebut seakan ikut ditarik dalam semangat ibadah yang tinggi.

"Beberapa warga yang tergolong mampu, sebelumnya belum daftar kurban, lalu mendaftar kurban. Sampai bilang 'Mbah Kaminem saja berkurban, saya ikut juga'," kata Wachid meniru.

Pada tahun ini, masjid tersebut rencananya akan berkurban lima ekor sapi lewat 35 sohibul kurban serta lima ekor kambing untuk 40 orang. Satu ekor sapi untuk dipatok senilai Rp21 juta untuk tujuh orang sohibul kurban, nama Kaminem berada di antara mereka. Tiada ungkapan yang tepat, selain sembah sujud bagi Tuhan Maha Pemberi Rezeki dan Maha Penolong UmatNya.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya