Semester I/ 2018 Laba Bersih PNM tumbuh 60%

Oleh: Reni Lestari 09 Agustus 2018 | 15:48 WIB

Bisnis.com, YOGYAKARTA - PT Permodalan Nasional Madani atau PNM (Persero)  mencetak pertumbuhan laba bersih 60% pada Semester I/2018.

Direktur Utama PNM arief Mulyadi mengatakan sampai Juni 2018 pihaknya berhasil mengantongi laba bersih hingga Rp17,6 miliar.  Angka tersebut meningkat 60% dibandingkan realisasi Juni 2017 senilai Rp11 miliar.  

Arief mengatakan pihaknya tidak menargetkan angka khusus untuk pencapaian laba bersih tahun ini. Sebab, yang diamanatkan Kementerian BUMN kepada PNM adalah pencapaian jumlah nasabah yang harus mencapai 4 juta sampai akhir 2018. 

"Target [laba] tahun ini kecil, karena Bu Menteri [BUMN] cuma menargetkan [jumlah] nasabah.  Tetapi tentu sebagai CEO,  saya harus menjaga sustainibility,  itu kan juga menjadi ukuran investor [untuk berinvestasi]," kata Arief saat berbincang dengan wartawan di Yogyakarta,  Rabu (8/8/2018). 

Namun demikian dia meyakini hingga akhir 2018 laba bersih perseroan akan melampaui Rp30 miliar.  Sementara itu untuk penyaluran pembiayaan baru,  PNM berhasil membukukan Rp5 triliun hingga Juni 2018. Angka tersebut terdiri atas Rp4,6 triliun akumulasi program Unit Layanan Modal Mikro (Ulamm) dan Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Sementara sisanya disalurkan melalui skema modal ventura.  

Arief mengatakan, tak jauh berbeda dengan pertumbuhan laba bersih, penyaluran pembiayaan baru juga diperkirakan tumbuh 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.  

Hingga akhir tahun Arief menargetkan penyaluran pembiayaan bisa mencapai Rp9 triliun.  Target tersebut meningkat 38,46% dibandingkan realisasi sepanjang 2017 senilai Rp6,5 triliun.  

Sementara itu,  tahun ini PNM membutuhkan total pendanaan sekitar Rp11 triliun. Portofolio pendanaan PNM didominasi oleh capital market sebesar 80% yang terdiri atas obligasi,  medium term notes (MTN, dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). 

Arief mengatakan meski saat ini likuditas pendanaan PNM masih terkendali,  pihaknya berencana kembali menerbitkan surat utang pada semester kedua tahun ini.  Sebeluk itu PNM akan terlebih dahulu mengajukan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III dengan total dana yang dibidik sebesar Rp5 triliun.  Adapun untuk rilis obligasi PUB III tahap pertama tahun ini, pihaknya masih memperhitungkan potensi pasar untuk menentukan jumlah dana yang dibidik.  

Adapun per 1 Agustus 2018 PNM juga telah mengonversi cabang dan nasabahnya ke sistem pembiayaan syariah di empat provinsi, antara lain Aceh,  Riau,  Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat. Di bulan pertama operasional cabang syariah tersebut, outstanding pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp320 miliar dengan nasabah berjumlah 310 ribu.  

Arief memperkirakan kontribusi bisnis syariah terhadap total penyaluran pembiayaan PNM dapat mencapai Rp1 triliun hingga akhir tahun ini.   Ke depan, Arief memproyeksikan sejumlah daerah yang menyusul konversi cabang menjadi syariah.  Namun konversi ke sistem syariah tak harus kantor cabang tingkat provinsi.  

"Kalau ada kecamatan yang permintaaannya kuat di syariah, bisa jadi konversi.  Memang kita sedang mendata [daerah-daerah yang potensial dikonversi ke syariah]," jelas Arief.  

Sementara itu, PNM cabang daerah Istimewa Yogyakarta hingga Juli 2018 telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp121,8 miliar.  Pencapaian tersebut tumbuh 33% dibandingkan angka penyaluran pembiayaan hingga Desember 2017 sebesar Rp90,8 miliar. Hingga akhir tahun ini,  PNM cabang Yogyakarta membidik pembiayaan sebesar Rp130,5 miliar.  

Editor: Mia Chitra Dinisari

Berita Terkini Lainnya