Guguran Kubah Lava Merapi Perlu Diantisipasi

Oleh: Irwan A Syambudi 24 Agustus 2018 | 16:07 WIB
Guguran Kubah Lava Merapi Perlu Diantisipasi
Gunung Merapi menyemburkan material vulkanis terlihat dari kawasan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Jumat (1/6/2018)./ANTARA-Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Aktivitas Gunung Merapi setelah adanya kubah lava baru saat ini masih cenderung stabil. Namun demikian guguran di kubah lava yang dapat menyebabkan awan panas perlu untuk diwaspadai.

Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY, Agus Budi Santoso mengatakan akhir-akhir ini kegempaan cukup intensif di puncak Gunung Merapi. Gempa terjadi di permukaan misalnya gempa LF (Low Frequency) dan gempa guguran.

Hal ini menurutnya wajar karena memang pada saat ini pada fase pertumbuhan kubah lava. Dan berdasarkan pengamatannya pertumbuhan relatif sama dibanding hari-hari kemarin.

Agus menyebut bahwa erupsi Merapi kali ini cenderung menuju efusif. Namun demikian yang harus diwaspadai dari erupsi efusif adalah ketika kubah lava sudah mulai penuh. "Ketika kubah lava muncup-muncup. Kemudian tidak stabil karena muncup-muncup itu lalu mengakibatkan longsor. Dan longsor ini mengakibatkan awan panas atau wedus gembel. Jadi yang kami antisipasi itu adalah awan panas dari guguran kubah lava ini," kata dia, Jumat (24/8/2018).

Proses terjadinya awan panas itu dapat terjadi ketika guguran kubah lava terus aktif dan mengandung gas yang tinggi. Hal itu dapat menyebabkan terjadi awan panas dan tidak tergantung seberapa besar guguran kubah lava.

Lanjutnya lagi erupsi sebetulnya ada dua yakni erupsi efusif dan eksplosif. Keduanya berbeda dan bukan merupakan sebuah tahapan dalam erupsi gunung merapi.

"Jadi yang namanya erupsi itu istilah untuk magma yang mulai keluar dari gunung. Dengan adanya kubah lava kemarin yang muncul 11 Agustus itu sudah masuk fase erupsi. Erupsi sendiri ada dua macam yaitu efusif dan eksplosif. Dua ini tidak terjadi berurutan. Kalau efusif ya efusif tidak akan eksplosif. Kalau terjadi kombinasi keduanya itu jarang-jarang," jelasnya.

Agus menegaskan bahwa saat ini belum ada guguran kubah lava uang mengakibatkan terjadinya awan panas. Pasalnya saat ini kubah lava masih stabil dan pertumbuhan juga masih rendah.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya