Lapangan Terbang Ngloram Blora Dioptimalisasi 2019

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 25 Agustus 2018 | 00:03 WIB
Lapangan Terbang Ngloram Blora Dioptimalisasi 2019
Bekas Lapangan Terbang Ngloram di Blora, Jawa Tengah./Istimewa

Bisnis.com, SEMARANG Rencana optimalisasi Lapangan Terbang Ngloram Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada 2019 mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Aktivitas pengembangan akan dilakukan oleh Kemenhub seusai penerapan pembatasan wilayah kerja infrastruktur tersebut tahun ini.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah Satriyo Hidayat menuturkan Lapangan Terbang Ngloram merupakan aset Kementerian ESDM yang telah diserahkan pengelolaannya kepada Kemenhub beberapa waktu lalu.

"Segera dikelola. Tahun ini ada anggaran sekitar Rp2 miliar di satuan kerja di [Kementerian] Perhubungan. Anggarannya masih ‘nempel’ di Bandara Bawean. Tahun depan diharap dibangun secara minimal dulu," ujarnya pada Jumat (24/8/2018).

Satriyo mengutarakan optimalisasi diawali tahun ini dengan pembatasan wilayah kerja terlebih dahulu.

Setelah itu, dilakukan revitalisasi landasan pacu sepanjang 900 meter di lapangan terbang tersebut yang sudah tak lama digunakan. Kondisi aspal runway pada infrastruktur buatan tahun 1980 dan beroperasi 4 tahun setelahnya itu kini terbengkalai.

Satriyo menjelaskan tahapan awal optimalisasi yakni pelapisan ulang pada landasan pacu akan mengawali tahapan revitalisasi proyek pengembangan. Kemudian, baru bisa dioperasikan secara fungsional.

"Karena jujur teman-teman di pusat harus menyusun RIP [Rencana Induk Pembangunan]. Rencana induk bandara seperti apa, sembari berjalan beriringan [landasan pacu] 900 meter difungsionalkan dulu. Langkah berikutnya akan dibicarakan," tambahnya.

Menurut Satriyo, dengan pengaktifan kembali lapangan terbang ini, pesawat jenis Cesna maupun Cassa sudah bisa melakukan pendaratan di landasan jika nanti sudah diperlakukan pengoperasiannya secara fungsional.

"Tanah landasan panjangnya 1.100 meter yang sudah dibebaskan. Kalau nanti akan dipanjangkan lagi menjadi 2.000 meter, tentunya ada pembebasan tanah lagi sekitar 200 x 300 meter," ucapnya.

Mengenai potensi penerbangan, menurutnya, akan menarik para ekspatriat atau pekerja tambang di Cepu dan Bojonegoro. Dia pun mencontohkan eksplorasi minyak oleh Pertamina di Cilacap setelah dibangun Bandara Tunggul Wulung.

"Ekspatriat tenaga minyak ini sekarang paling nyaman baru naik kereta. Di Bojonegoro ada empat hotel bintang yang sekitar 50% sampai 60% sudah dikontrak oleh mereka [perusahaan minyak]. Harapannya nanti mereka ini keluar masuknya lewat Cepu [Blora]," ujarnya.

Editor: M. Syahran W. Lubis

Berita Terkini Lainnya