Pengembangan UMKM di Jateng Terkendala Permodalan

Oleh: Lucky Leonard 30 Agustus 2018 | 19:51 WIB
Pengembangan UMKM di Jateng Terkendala Permodalan
Perajin menyelesaikan pembuatan tempat parcel berbahan rotan di sentra kerajinan rotan desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (8/6)./Antara-Mohammad Ayudha

Bisnis.com, SEMARANG - Permodalan masih menjadi kendala utama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Tengah untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Ketua DPW Asosiasi Akumandiri Jawa Tengah Madiyo Sriyanto mengatakan banyak UMKM yang kesulitan untuk mengakses fasilitas permodalam dari lembaga keuangan. Menurutnya, hal tersebut kerap menghambat potensi pengembangan kapasitas produksi.

"Kita fokus bagaimana UMKM ini bisa meningkatkan kapasitasnya. Tapi, dari sisi permodalan masih sering jadi kendala untuk UMKM, khususnya yang masih mikro atau baru memulai. Potensinya ada tapi sulit berkembang," tuturnya melalui keterangan resminya, hari ini Kamis (30/8/2018).

Dia mengungkapkan pihaknya pun akan terus memfasilitasi UMKM untuk bisa mendapatkan permodalan. Adapun kerja sama dengan beberapa bank telah dilakukan.

Selain itu, pihaknya pun membantu para UMKM dari sisi pemasaran dan pendampingan untuk pembuatan laporan keuangan sederhana. Menurutnya, untuk level menengah, pengetahuan mengenai laporan keuangan sangat penting karena akan berkaitan langsung dengan penghitungan pajak.

"Masih banyak yang gak tahu bagaimana cara membuat laporan keuangan secara sederhana. Ada juga yang khawatir nanti bagaimana soal pajaknya," ujarnya.

Saat ini, UMKM di Indonesia terus ditopang oleh perkembangan industri kreatif yang semakin pesat, termasuk di Jawa Tengah.

Menurut Kementerian Perindustrian, industri kreatif di Indonesia diperkirakan tumbuh hingga 7% per tahun, sekaligus berkontribusi besar bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, jumlah perusahaan, hingga pasar ekspor.

Sepanjang 2014-2015 saja, misalnya, nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif diestimasi mencapai Rp111,1 triliun. Penyumbang nilai tambah tertinggi tersebut antara lain subsektor mode dan kuliner.

Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor sebesar 11,81%, diikuti fesyen dengan pertumbuhan 7,12%, periklanan sebesar 6,02%, dan arsitektur 5,59%.

Editor: Sutarno

Berita Terkini Lainnya