Genjot Sektor Pertanian, Pemprov Jateng Gelontorkan Rp1 Triliun

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 25 September 2018 | 14:14 WIB
Genjot Sektor Pertanian, Pemprov Jateng Gelontorkan Rp1 Triliun
Pekerja menjemur gabah di tempat pengeringan gabah di Desa Pilangrejo, Wonosalam, Demak, Jawa Tengah, Selasa (16/1/2018)./Antara-Aji Styawan

Bisnis.com, SEMARANG -- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggenjot sektor pertanian sebagai bagian dari upaya menyejahterakan masyarakat, dengan mengucurkan dana Rp1 triliun pada tahun ini. 

Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah (Jateng) Achsin Maruf menuturkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng tahun ini memprioritaskan sektor pertanian. Alasannya, jumlah petani di provinsi ini cukup banyak terutama petani padi.

Hal ini dibuktikan dengan produksi beras Jateng yang surplus dan didistribusikan ke sejumlah daerah.
 
"Ya, tahun ini kami berikan Rp1 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk melakukan berbagai inovasi terbaru mengenai teknologi pertanian serta untuk menggenjot produksi," ujarnya, Selasa (25/9/2018).
 
Menurut Achsin, anggaran yang telah digelontorkan oleh Pemprov Jateng masih dirasa kecil dari total APBD Jateng yang mencapai Rp26 triliun. Idealnya, anggaran untuk sektor pertanian sebesar Rp2 triliun.
 
Nilai Rp2 triliun diyakini cukup untuk membuat petani melakukan banyak inovasi serta mencakup subsidi pascapanen raya dari Pemprov Jateng. Peningkatan anggaran dipandang dapat mengerek Nilai Tukar Petani (NTP) Jateng.
 
"Jika mau komitmen ke depan, anggaran harus dinaikkan, maka para petani diharapkan akan sejahtera seiring dengan naiknya NTP di Jateng," terangnya. 
 
Sementara itu, Kepala Balai Mutu Hasil Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng Heru Tamtomo menjelaskan tingkat produksi pertanian di Jateng masih dalam tahap aman dan bisa terkontrol dengan baik.
 
"Walaupun banyak isu krusial pertanian, tapi ada kabar baik yaitu tingkat produksi produk pertanian di beberapa daerah menunjukan peningkatan walaupun sangat sedikit. Untuk produksi beras secara keseluruhan pada supron pertama sampai Juli 2018 menunjukan peningkatan menjadi 3,3%. Kendala isu krusial bisa ditangani secara bersama agar produksi pangan terus meningkat tiap tahun," ungkapnya.
 
Di sisi lain, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Sony Heru Priyanto menyayangkan banyaknya intansi dan stakeholder yang masih berkutat dengan peningkatan produksi, bukan ke investasi. Dia menilai produksi adalah permasalahan klasik karena akan terus berputar dan menahan keberanian untuk melangkah ke investasi produk pangan. 
 
"Yang saya maksud adalah pertanian sebagai sisi investasi jangka panjang, misal digarap secara masif akan membawa dampak baik, tidak hanya para petani saja tapi semua pihak yang terlibat. Sistem yang berkembang saat ini adalah community market atau komunitas penjualan, dengan sistem tersebut masyarakat atau petani lokal mengembangkan produk pertanian sebagai peluang investasi bagi para vendor yang akan menanamkan modalnya," papar Sony.

Editor: Annisa Margrit

Berita Terkini Lainnya