Kredit Macet Soloraya Mencapai Rp1,39 Triliun

Oleh: Farida Trisnaningtyas & Bayu Jatmiko Adi 09 Oktober 2018 | 18:48 WIB
Kredit Macet Soloraya Mencapai Rp1,39 Triliun
Karyawan menghitung uang rupiah./Reuters-Willy Kurniawan

Bisnis.com, SOLO – Kredit macet atau non performing loan (NPL) perbankan bank konvensional di Soloraya mencapai Rp1,39 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo yang mencatat tingkat kredit macet perbankan Soloraya per Agustus 2018 sebesar 2,03% atau senilai Rp1,39 triliun. Meskipun demikian, persentase ini lebih rendah dari NPL di Jawa Tengah sebesar 2,54%.

Kepala Bagian Pengawasan Bank OJK Solo, Dinavia Tri Riandari, mengatakan persentase kredit bermasalah di perbankan Soloraya, yakni bank konvensional ini lebih baik daripada Jawa Tengah. Angka ini berdasarkan year on year (yoy) per Agustus 2018.

"Persentase kredit bermasalah di Soloraya lebih baik daripada Jawa Tengah. Angka ini menunjukkan perekonomian di Soloraya masih bagus," ujarnya kepada wartawan, Selasa (9/10/2018).

Menurutnya, kredit macet di Soloraya ini paling banyak terjadi di bank konvensional Kota Solo yang mencapai Rp1,1 triliun. Solo disusul Kabupaten Sragen dengan NPL Rp66 miliar, kemudian Kabupaten Klaten dengan Rp50 miliar, Wonogiri Rp49 miliar, Sukoharjo Rp48 miliar, Karanganyar Rp42 miliar, dan Boyolali Rp35 miliar.

Lebih lanjut Dinavia menambahkan capaian kinerja perbankan Soloraya meliputi tiga indikator mengalami pertumbuhan, yakni aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit.

OJK Solo merujuk pada data yoy per Agustus 2017-2018 aset bank konvensional tumbuh sebesar 10,42%, yakni dari Rp73,763 triliun menjadi Rp81,45 triliun. Persentase ini melebihi rata rata pertumbuhan aset bank konvensional di Jateng, yakni 6,79%.

Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) bank konvensional Soloraya juga tumbuh 12,01%, yakni dari Rp55,626 triliun menjadi Rp62,309 triliun. Angka ini pun lebih daripada kenaikan DPK bank di Jateng sebesar 8,3%.

Namun demikian, kredit tercatat lebih rendah, yakni 8,62%, sementara Jateng sebesar 8,79%. Nominal kredit ini semula Rp63,117 triliun menjadi Rp68,333 triliun.

"Ini [kredit] bukan turun, tapi pertumbuhannya lebih rendah dari Jateng," imbuhnya.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya