Bank Indonesia Gandeng UNS Gelar Museum Goes to Campus

Oleh: Herdiyan 29 Oktober 2018 | 14:53 WIB
Bank Indonesia Gandeng UNS Gelar Museum Goes to Campus
Perwakilan D\'Topeng Kingdom Foundation, Elly T. Halsamer, menyampaikan materi pada workshop Belajar Bersama di Museum dalam rangkaian Museum goes to Campus #3 di Gedung Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Kamis (25/10/2018)./JIBI-M. Ferri Setiawan

Bisnis.com, SOLO – Bank Indonesia menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Museum Goes to Campus (MGTC).

MGTC merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS). Sukses menyelenggarakan pada tahun pertama dan kedua, kini di tahun ketiga Bank Indonesia berkesempatan untuk menceritakan bagaimana perjalanan sejarah bangsa di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia.

Selain itu juga, peran Bank Indonesia hingga kebijakan-kebijakan yang dibuat meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia terhadap masyarakat.

Kegiatan MGTC III 2018 terdiri dari Pameran Museum Bank Indonesia di Auditorium UNS pada 23-28 Oktober 2018, talkshow dengan tema “Milenial Datang Mengubah Tata Dagang” di Auditorium Panggung Utama MGTC III UNS pada 24 Oktober 2018, dan dialog dengan tema “Sinergi Museum dengan Komunitas” di Auditorium Panggung Utama MGTC III UNS pada 25 Oktober 2018.

Pameran Museum Bank Indonesia

Dalam acara MGTC III 2018, Museum Bank Indonesia menyajikan informasi kelembagaan dan kebijakan Bank Indonesia dari masa ke masa dalam bentuk multimedia dan permainan edukasi interaktif, serta koleksi numismatik yang berkaitan dengan sejarah perdagangan dan perekonomian di Nusantara.

Koleksi numismatik tersebut antara lain uang kerajaan mataram kuno, uang jenggala, uang masa perdagangan (abad ke 15-18), uang masa kolonialisme, uang zaman penjajahan Jepang, uang revolusi, uang Republik Indonesia Serikat, uang pemerintah RI, uang Bank Indonesia, uang commemorative, dan uncut banknotes (uang bersambung).

Talkshow dengan tema “Milenial Datang Mengubah Tata Dagang”

Dalam talkshow yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan panitia MGTC 2018 dan UNS pada Rabu, 24 Oktober 2018 dengan tema “Milenial Datang Mengubah Tata Dagang” menceritakan sejarah perjalanan dan transformasi transaksi perdagangan dan alat tukar di Indonesia oleh sejarahwan, pemegang kebijakan hingga peran generasi milenial.

Sejarah perdagangan dari masa ke masa, di mana awal mula manusia bertransaksi menggunakan sistem barter, lalu menggunakan emas, hingga terciptanya uang kertas akan diceritakan oleh Intan Novela Qurrotul Aini.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan memberikan informasi bagaimana peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan kebijakan-kebijakan pada setiap zamannya, khususnya terkait transaksi dengan alat tukar tunai dan nontunai hingga saat ini sudah tiba masa transaksi digital. Perkembangan yang terasa sungguh cepat tidak lepas dari pantauan Bank Indonesia.

Head of Community Bukalapak Muhammad Fikri mengatakan sejak berdiri 7 tahun lalu, Bukalapak merupakan salah satu contoh gagasan generasi milenial yang kini menciptakan tata dagang dalam bentuk digital.

Berawal dari kesadaran konsumtif tinggi masyarakat maya terhadap media sosial, founder Achmad Zacky memiliki ide kreatif untuk membangun sebuah pasar online. Hal ini kini sudah menjadi kegiatan sehari-hari masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.

Pasar online ini pun ternyata tidak hanya mempermudah para konsumen yang ingin mencari barang sesuai kebutuhannya, namun menciptakan lapak bagi para penjual untuk bersaing dalam pasar dagang.

Dialog dengan tema “Sinergi Museum dengan Komunitas”

Tidak hanya membahas dari segi perdagangan dan alat pembayaran, Bank Indonesia juga mengangkat hubungan di antara museum dan komunitas.

Museum tidak hanya menjadi media edukasi dan pariwisata yang kita kunjungi hanya sekali dan fokus terhadap tata pamer yang disajikan saja.

Dengan perkembangan zaman museum kini dapat menjadi wadah bagi seluruh masyarakat untuk membagikan ide kreatif yang disuarakan melalui aktivitas komunitas-komunitas yang diselenggarakan di museum maupun promosi publikasi museum secara virtual dengan media sosial sehingga museum akan semakin hidup dan bermarwah.

Museum Vrederburg membagikan cerita bagaimana eksistensinya yang sampai saat ini menjadi salah satu destinasi pilihan wisatawan mancanegara, lokal, bahkan masyarakat dengan melibatkan berbagai komunitas beragam untuk turut menjadi bagian dari aktivitas museum.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo M. Taufik Amrozy menyampaikan peran bank sentral di Solo dan kerja sama yang telah dilakukannya dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk dengan melibatkan berbagai komunitas serta rencana Bank Indonesia mendirikan museum di gedung heritage Bank Indonesia Solo.

Ke depan, museum ini diharapkan menjadi wadah informasi untuk mendukung komunikasi dan edukasi kebijakan Bank Indonesia kepada masyarakat.

Museum ini tidak hanya menampilkan informasi seputar Bank Indonesia, tetapi juga sejarah perekonomian dan budaya Surakarta serta program edukasi publik yang akan melibatkan pula berbagai komunitas agar Museum Bank Indonesia di Solo nantinya optimal dalam pemanfaatannya sesuai tujuan untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Editor: Herdiyan

Berita Terkini Lainnya