Industri Perbankan Jateng Catatkan Pertumbuhan Kinerja

Industri perbankan Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan kinerja pada September 2018, baik di sisi aset, kredit, maupun Dana Pihak Ketiga.
Alif Nazzala Rizqi | 16 November 2018 12:30 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan di sebuah galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, SEMARANG -- Industri perbankan Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan kinerja pada September 2018, baik di sisi aset, kredit, maupun Dana Pihak Ketiga.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah (Jateng), nilai aset tumbuh 8,16% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp403,77 triliun sedangkan kredit meningkat 8,55% menjadi Rp294,38 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 9,82% menjadi Rp305,91 triliun. Pertumbuhan ini pun lebih tinggi dibandingkan peningkatan secara nasional yang sebesar 6,65%.  
 
Kepala OJK Jateng dan DI Yogyakarta (DIY) Aman Santosa mengatakan industri perbankan di provinsi itu mengalami pertumbuhan positif seiring dengan perkembangan industri perbankan syariah di daerah tersebut. 
 
"Perbankan syariah Jateng menyalurkan pembiayaan sebesar Rp20,12 triliun atau mengalami pertumbuhan 18,44% secara yoy, pertumbuhan pembiayaan ini lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh 14,35%. Untuk share pembiayaan tersebut terhadap nasional mencapai 6,84%," paparnya usai dilantik sebagai Kepala OJK Kantor Regional 3 Jateng DIY Jumat (16/11/2018).

Hal ini, lanjut Aman, sejalan dengan lebih baiknya kualitas pembiayaan yang disalurkan dibandingkan nasional, yang ditunjukkan dengan Non Performing Finance (NPF) sebesar 2,68%. Adapun NPF nasional sebesar 3,45%.

Jika diperinci per jenis penggunaan, maka penyaluran  terbesar tercatat pada Kredit Modal Kerja (KMK) yang senilai Rp161,5 triliun atau meningkat 10,66% secara yoy dan dengan porsi 54,87%. Jika dilihat per sektor ekonomi, maka distribusi terbesar terjadi di sektor perdagangan besar dan eceran yang sebesar Rp96 triliun  atau naik 10,42%.
 
Untuk Industri Keuangan Non Bank (IKNB), pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp49,74 triliun atau tumbuh 6,62% secara yoy dan dengan porsi 11,01% dari penyaluran total nasional.
 
"Industri jasa keuangan non bank juga tumbuh positif. Semoga tren yang bagus kali ini terus terjaga," ujarnya.
  
Untuk kualitas pembiayaan, NPF diklaim sebesar 1,34% atau lebih  rendah dari NPF nasional yang berada di level 3,17%.

Di sisi bank wakaf mikro, saat ini ada 9 bank wakaf mikro yang telah diresmikan di Jateng dan DIY. 

Untuk pasar modal, OJK menyebutkan jumlah Single Investor Identity (SID) di Jateng sebanyak 72.675 atau bertambah 33,57 secara yoy. Nilai transaksi saham yang dibukukan sebesar Rp3,18 triliun.

Financial technology (fintech) Peer-to-Peer (P2P) lending pun berkembang cukup signifikan. Per September 2018, terdapat 73 perusahaan terdaftar dan 1 perusahaan berizin.
 
Nilai outstanding pembiayaannya disebut mencapai Rp708,01 miliar dengan 142.367 borrower, sedangkan dari sisi lender sebesar Rp151,18 miliar dengan 12.450 lender.
 
Untuk perusahaan pergadaian, dari 58 perusahaan secara nasional, 7 di antaranya berada di Jateng.

Aman menambahkan, selain mengatur dan mengawasi, tugas pokok OJK yaitu melindungi konsumen. Hingga September 2018, ada 277 pengaduan dari masyarakat, yang didominasi pengaduan terhadap perbankan sebanyak 41,5% dan diikuti perusahaan pembiayaan sebesar 13,43%.

Tag : perbankan, jateng
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top