Harga Properti Residensial di Pasar Sekunder Kota Semarang Tumbuh Melambat

Sektor properti di Kota Semarang, secara umum cenderung stagnan pada triwulan IV 2018. Peningkatan masih terjadi di beberapa sektor properti, namun terbatas di segmen tertentu.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 18 Februari 2019  |  15:53 WIB
Harga Properti Residensial di Pasar Sekunder Kota Semarang Tumbuh Melambat
Foto ilustrasi perumahan. - Bisnis Rahman

Bisnis.com, SEMARANG - Sektor properti di Kota Semarang, secara umum cenderung stagnan pada triwulan IV 2018. Peningkatan masih terjadi di beberapa sektor properti, namun terbatas di segmen tertentu. 

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra mengatakan, adanya relaksasi LTV yang dukeluarkan oleh Bank Indonesia yang berlaku mulal 1 Agustus 2018 belum memberikan dampak signifikan pada permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). 

"Walaupun demikian, pertumbuhan harga tanah dan rumah di Kota Semarang masih menunjukkan tren positif dan mengalami kenaikan," kata Rahmat dalam keterangan resminya Senin (18/2/2019).

Dia menjelaskan, secara triwulanan, harga properti residensial di pasar sekunder untuk Kota Semarang pada triwulan IV 2018 tumbuh sebesar 0,22% (qtq), lebih lambat dibandingkan triwulan Ill 2018 yang tumbuh sebesar 0,26% (qtq) Pertumbuhan harga tertinggi terjdi di wilayah Semarang Tengah sebesar 0,53% (qtq).

Sementara untuk pertumbuhan terendah dialami oleh Semarang Utara sebesar 0,03% (qtq). Secara tahunan, rata-rata harga properti residensial di pasar sekunder untuk Kota Semarang tumbuh sebesar 1,44% (yoy), relatif stabil dibandingkan pertumbuhan tahunan pada triwulan Ill 2018. 

"Harga tanah di pasar sekunder Kota Semarang pada triwulan IV 2018 tumbuh sebesar 0,41% (qtq). lebih Iambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III 2018 sebesar 0,46% (qtq)," tuturnya.

Menurutnya, wilayah Semarang Barat tercatat mengalami pertumbuhan triwulanan tertinggi yaitu sebesar 0,70% (qtq), sementara pertumbuhan harga tanah terendah terjadi di wilayah Semarang Timur, sebesar 0,12% (qtq).

Dia menambahkan, secara tahunan, harga tanah di pasar sekunder juga tumbuh melambat, dan sebesar 2,10% pada triwulan Ill 2018 menjadi sebesar 2,06% (yoy) pada triwulan IV 2018.

Pertumbuhan harga tertinggi terjadi di Wilayah Semarang Tengah sebesar 3,03% (yoy), sementara Semarang Utara mencatatkan pertumbuhan harga tanah terendah sebesar 0,38% (yoy). 

Pertumbuhan properti residensial yang melambat pada triwulan IV 2018 seiring dengan penyaluran kredit konsumsi yang juga tumbuh melambat, dan sebesar 7,72% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar 7,42% (yoy).

 

Di sisi lain lanjut dia, penyaluran KPR untuk kepemilikan rumah segmen menengah dan menengah atas (rumah tinggal tipe di atas 70) menunjukkan penumbuhan positif sebesar 10.77% (yoy), walaupun melambat dibandingkan triwulan Ill 2018 yang sebesar 1 1,75% (yoy).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis properti, semarang

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top