Kenaikan Tarif Trans Jateng Diyakini Tidak Memberatkan Penumpang

Akademisi menilai kenaikan tarif penupang moda transportasi darat bus rapid transit (BRT) Trans Jateng sebesar Rp500 dan Rp1.000 koridor Terminal Bawen–Stasiun Tawang tidak akan berpengaruh terhadap minat penumpang menggunakannya.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 28 Maret 2019  |  18:45 WIB
Kenaikan Tarif Trans Jateng Diyakini Tidak Memberatkan Penumpang
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meresmikan Trans Jateng Purwokerto Purbalingga pada Senin (13/8/2018). - Bisnis.com/Alif Nazzala Rizqi

Bisnis.com, SEMARANG—Akademisi menilai kenaikan tarif penupang moda transportasi darat bus rapid transit (BRT) Trans Jateng sebesar Rp500 dan Rp1.000 koridor Terminal Bawen–Stasiun Tawang tidak akan berpengaruh terhadap minat penumpang menggunakannya.
 
Tarif untuk penumpang umum dari Rp3.500 menjadi Rp4.000, sementara tarif untuk buruh dan pelajar dari Rp1.000 menjadi Rp2.000.
 
Akademisi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno menilai, tarif BRT Trans Jateng masih terjangkau oleh masyarakat dengan ada kenaikan tarif sebesar Rp500 dan Rp1.000 pada 1 April 2019.
 
“Tidak banyak pengaruh kepada penumpang, cuma Rp1.000,” kata Djoko kepada Bisnis, Kamis (28/3/2019).
 
Dia menjelaskan, tarif bus BRT Trans Jateng dengan rute Purwokerto – Purbalingga bahkan sudah memiliki tarif Rp4.000 dan Rp2.000 sejak awal.
 
Dengan besaran tarif tersebut, lanjutnya load factor dinamis moda transportasi darat koridor Purwokerto – Purbalingga tersebut cukup tinggi, yakni 70%
 
“[Tarif Rp4.000 dan Rp2.000] Tidak ada masalah dan lancar jaya,” katanya.
 
Dia menambahkan, yang perlu menjadi perhatian terkait dengan bus Trans Jateng adalah ukuran bus yang beroperasi. Menurutnya, bus Trans Jateng yang beroperasi perlu diganti dengan bus yang lebih besar mengingat minat masyarakat cukup tinggi.
 
Saat ini, lanjutnya, tingkat keterisian bus Trans Jateng koridor Terminal Bawen—Stasiun Tawang sudah mencapai 105%, dan kondisi ini tidak nyaman bagi penumpang karena mereka harus berdesakan ketika menggunakan moda transportasi darat tersebut.
 
Kemudian, dia menuturkan kendaraan bus yang digunakan sebagai armada Trans Jateng juga tidak perlu menggunakan bus dengan deck tinggi. Menurutnya, penggunaan bus dengan deck yang normal atau rendah akan memudahkan dalam membuat halte bus tersebut.
 
Tidak hanya itu, dari sisi biaya juga pembuatan halte untuk bus deck normal atau rendah juga akan lebih murah dibandingkan dengan halte untuk bus deck tinggi.
 
“Tidak harus bus yang high deck, pilih low deck atau normal deck,” katanya.
 
Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Jawa Tengah Ginaryo, membenarkan perubahan tarif yang akan berlaku bagi pengguna moda transportasi BRT Trans Jateng pada 1 April 2019.
 
Menurutnya, tarif moda transportasi bus rapid transit Trans Jateng untuk penumpang umum akan mengalami kenaikan dari Rp3.500 menjadi Rp4.000 untuk penumpang umum.

Sementara untuk buruh dan pelajar, tarif yang dikenakan berubah dari Rp1.000 menjadi Rp2.000.
 
“Iya benar [Tarif trans Jateng mengalami kenaikan per 1 April 2019].” Katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jateng, semarang

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top