Teknik Renovasinya Salah, Pilar Masjid Agung Solo Rusak

Pilar Masjid Agung Keraton Solo di Pasar Kliwon, Solo, rusak digerogoti serangga rayap. Kondisi ini dipicu kesalahan teknik renovasi pada 2005 silam.
Candra Mantovani
Candra Mantovani - Bisnis.com 05 Juli 2019  |  23:25 WIB
Teknik Renovasinya Salah, Pilar Masjid Agung Solo Rusak
Pekerja memperbaiki pilar Masjid Agung Solo yang rusak karena salah teknik renovasi, Jumat (5/7/2019). (Solopos - Nicolous Irawan)

Bisnis.com, SOLO - Pilar Masjid Agung Keraton Solo di Pasar Kliwon, Solo, rusak digerogoti serangga rayap. Kondisi ini dipicu kesalahan teknik renovasi pada 2005 silam.

Pengurus Bagian Rumah Tangga Masjid Agung Solo, Mustakim, mengatakan ada kesalahan saat pelaksana proyek mengecor sisi dalam pilar kayu. Selain itu, penggunaan kayu pilar yang masih berumur muda memicu pembengkakan kayu sehingga kayu tersebut retak.

“Salah satu faktor kerusakan karena memang teknik yang digunakan saat renovasi salah. Pilarnya itu dalamnya dicor. Semen kan tidak senyawa dengan kayu. Akhirnya terjadi pembengkakan. Kemudian retak,” bebernya.

Mustakim menjelaskan kerusakan paling parah terjadi pada pilar nomor enam. Selain itu, kerusakan juga terjadi di pilar nomor satu, empat, dan lima. Pilar-pilar tersebut harus segera diperbaiki agar tidak hancur.

“Kami baru sadar ada kerusakan sesaat sebelum Bulan Puasa. Kami lihat kok retak. Retaknya juga tidak di satu tempat. Akhirnya kami menghubungi BPCB [Balai Pelestarian Cagar Budaya] untuk melakukan pengecekan,” imbuh dia.

Berdasarkan pengecekan BPCB, pengurus Masjid Agung Solo disarankan memperbaiki pilar-pilar yang rusak. Untuk perbaikan tersebut, BPCB memberikan anggaran Rp87 juta.

Anggaran tersebut untuk menambal pilar yang sebelumnya diisi semen diubah kembali dengan kayu. “Setelah diteliti, kami dibuatkan RAB [Rencana Anggaran dan Biaya]. Kami sudah mulai mengerjakan perbaikan sejak Selasa [2/7/2019]. Awalnya kami memberikan insektisida untuk membunuh rayapnya. Baru kami bongkar isi pilar untuk mengeluarkan semen di dalam pilar,” kata dia.

Arkeolog pendamping perawatan Masjid Agung, Hareza Eko Prihantoro, mengatakan permasalahan utama terjadinya kerusakan karena proses pengecoran dalam pilar yang salah. Hal ini lantaran air yang menjadi campuran cor terperangkap di dalam pilar sehingga terjadi pelapukan pada daging dalam kayu pilar.

“Air juga menyebabkan kandungan glukosa di dalam kayu keluar. Itu yang mengundang rayap datang sehingga pilar kayunya dimakan rayap dan terjadi pengeroposan kayu. Solusi pengecoran hanya untuk jangka pendek. Seharusnya dalamnya juga kayu, bukan dicor,” papar dia.

Saat ini pengurus masjid memperbaiki pilar nomor enam dengan membasmi rayap dan mengeluarkan cor di dalam pilar. Rongga bekas cor akan diganti kayu yang sudah matang dan tidak berpotensi mengerut. Selain itu perbaikan juga dilakukan di pilar lainnya yang retak dengan menambal menggunakan bubuk kayu dan resin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
solo

Sumber : Solopos.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top