Modal Rp200.000, Tanah Mangkrak Disulap Jadi Kebun Bunga

Separuh tanah seluas 1.400 meter persegi di belakang gedung Mandala Wisata ditanami penuh bunga Celosia warna merah dan kuning.
Cahyadi Kurniawan | 29 Agustus 2018 09:25 WIB
Pengunjung berswafoto dengan latar hamparan bunga Celosia di kebun bunga Telaga Nursery Prambanan, Dukuh Tlogo Lor, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Selasa (28/8). - JIBI

Bisnis.com, KLATEN – Separuh tanah seluas 1.400 meter persegi di belakang gedung Mandala Wisata ditanami penuh bunga Celosia warna merah dan kuning. Di tengah-tengah kebun, ditaruh sebuah sepeda lawas untuk ornamen pengunjung berswafoto ria.

Kebun itu baru dibuka sekitar sepekan lalu. Namun, orang-orang dari berbagai daerah seperti Jogja, Solo, Jakarta hingga Kalimantan sengaja datang ke kebun itu untuk menikmati hamparan bunga Celosia dengan mata telanjang.

Mereka juga mengabadikan keindahan itu menggunakan kamera ponsel atau kamera saku yang dibawanya.

Untuk menikmati hamparan bunga, pengunjung dikenai biaya Rp5.000 untuk anak-anak dan Rp8.000 untuk dewasa. Mereka bisa berfoto sepuasnya memanfaatkan setiap inchi bunga yang masih bisa tumbuh tinggi hingga satu meter lebih.

“Harganya sangat terjangkau. Apalagi sepertinya ini baru satu-satunya di Klaten,” kata salah satu pengunjung Alissa Natalia, 35, di sela-sela berswafoto bersama putranya, Amadeo Aloysius Konzaga, 6, di taman bunga celosia Telaga Nursery Prambanan, Dukuh Tlogo Lor, Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan, Selasa (28/8/2018).

Ia dan putranya mengenakan caping untuk meredam panas terik mentari pagi. Di celah antara barisan bunga, keduanya berfoto dengan merah dan kuning celosia. Alissa sesekali meminta putranya berfoto di dekat sepeda lawas yang disediakan pengelola. Kadang, Amadeo merengek mengajak ibunya segera berteduh karena tak kuasa menahan panas menyengat tubuh mungilnya.

“Saya enggak lewat sini. Awalnya hanya jalan-jalan. Kebetulan si kecil [Amadeo] suka bunga-bunga. Dia minta ke sini buat foto-foto. Kalau bisa ditambah semacam gazebo atau kafe-kafean jadi bisa nongkrong sambil menikmati hamparan bunga,” harap dia, sambil menyeka keringat di keningnya.

Di kebun itu, selain menikmati bunga celosia, pengunjung bisa membeli benih bunga celosia dan benih aneka buah lainnya seperti kelelngkeng, jambu, dan lainnya. Kebun bunga itu dikelola oleh Telaga Nuresery Prambanan milik Isto Suwarno.

Bagi Isto, melihat pengunjung muda-mudi hingga generasi tua berfoto di kebun bunga miliknya menjadi kepuasan tersendiri. Pernah ada seorang pengunjung bercerita padanya, berfoto di kebun celosia serasa berfoto di Belanda.

“Padadal bunga ini asli Indonesia. Dulu kita kenal jengger ayam. Hanya saja, menanamnya tidak pernah ditata dan dihimpun di satu lokasi seperti saat ini,” tutur dia, di kebun bunga miliknya, Selasa pagi.

Teknik menanam bunga ia dapatkan dari Negeri Gajah Putih sekaligus belajar budi daya buah-buahan. Sedangkan, benih bunga ia dapatkan di dalam negeri. Untuk menanami lahan 700 meter persegi, ia hanya butuh modal membeli benih Rp200.000. benih itu disemai dan ditanam di lahan dengan proses layaknya menanam pohon cabai.
“Perawatannya enggak sulit, sama seperti menanam lombok. Harga satu pak benih isi 300 biji hanya Rp25.000. Bunga ini murah dan murah perawatannya,” tutur dia.

Bunga celosia miliknya baru mencapai umur 48 hari. Bunga itu masih terus tumbuh hingga umur empat bulan. Ia menyiapkan di lahan terpisah untuk regenerasi bunga itu agar pengunjung tak kecewa saat bunga mencapai masa penggantian. Penggantian buang dilakukan sore, dan ditanami kembali pada malam hari.

“Saat pagi, bunga siap dinikmati pengunjung. Jadi enggak ada jeda dengan alasan bunga belum tumbuh,” beber Isto yang kebunnya kini dikunjungi rata-rata 100 orang per hari.

Ia berharap setiap desa setiap kecamatan di Klaten mengembangkan bunga serupa untuk inovasi pemanfaatan lahan. Selain untuk aspek estetika, menanam bunga memiliki nilai ekonomi tersediri.

“Sekarang kalau taruh lah dikunjungi 100 orang per hari, ada pendapatan Rp800.000. Padahal, bunga ini bisa berumur empat bulan. Kalau ditanami padi berapa pendapatannya?” tanya dia, beretorika.

Sumber : JIBI/Solopos

Tag : klaten, Features
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top