Pantau Ekspor Avtur, BPS Jateng Akan Kunjung Pertamina Cilacap

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah berencana mengecek proyek PT Pertamina (Persero) di Cilacap untuk mengetahui prospek keberlanjutan ekspor avtur.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 10 September 2019  |  18:28 WIB
Pantau Ekspor Avtur, BPS Jateng Akan Kunjung Pertamina Cilacap
Seorang petugas mengisi bahan bakar avtur ke pesawat. - Istimewa

Bisnis.com, SEMARANG—Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah berencana mengecek proyek PT Pertamina (Persero) di Cilacap untuk mengetahui prospek keberlanjutan ekspor avtur.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Sentot Bangun Widoyono menuturkan, pada Juli 2019 ekspor Jateng melejit 93,33% dari bulan sebelumnya menjadi US$960,41 juta.

Kenaikan paling tinggi ada di produk migas sebesar US$208,04 juta dari Juni 2019 senilai US$1,66 juta, seiring dengan ekspor avtur dari kilang Pertamina di Cilacap. Ekspor perdana itu dilakukan pada Agustus 2019.

Ekspor merupakan salah satu komponen penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 7% pada 2023.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memfasilitasi masuknya investasi dari swasta, mengembangkan pasar-pasar luar negeri baru, dan mendukung industri berorientasi ekspor melalui insentif serta ketersediaan infrastruktur.

Terkait prospek ekspor avtur Pertamina di Cilacap, BPS Jateng berencana untuk mengecek langsung kondisi di lapangan. Bila ekspor avtur dapat berjalan secara kontinyu, hal ini akan membantu mendorong ekspor Jateng secara keseluruhan.

“Kita berencana mengecek langsung ke Pertamina, untuk melihat prospek ini. Potensinya [ekspor avtur] seperti apa, akan kami lihat,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (9/9/2019).

Sementara itu, aktivitas impor migas di Jateng menurun. Pada Juli 2019, impor komponen itu mencapai US$617,21 juta, terkoreksi 3,65% dari bulan sebelumnya US$640,6 juta.

Sepanjang Januari—Juli 2019, total impor migas di Jateng mencapai US$4.356,65 juta. Nilai itu merosot 24,87% yoy dari 7 bulan pertama 2018 sebesar US$5.798,49 juta.

Sentot menuturkan, penurunan impor produk migas merupakan kabar baik, karena problem tingginya impor di skala nasional juga terjadi di Jawa Tengah. Bahkan, neraca perdagangan Jateng terakhir kali mengalami surplus pada Januari 2017.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyampaikan, melalui Unit Pengolahan IV Cilacap, perusahaan melakukan ekspor perdana avtur pada akhir Agustus 2019 ke Singapura. Volumenya ekspor mencapai 200.000 barel dengan nilai US$15 juta atau sekitar Rp213 miliar (kurs Rp14.200 per dolar AS).

“Ekspor avtur ini merupakan bagian dari cita-cita Pertamina untuk zero impor avtur yang telah terealisasi sejak 1 April 2019. Sehingga [produksi avtur di dalam negeri] bisa menghemat devisa,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top