Dongkrak Pariwisata, Jateng Benahi Infrastruktur Pendukung

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot pembangunan dan pemberdayaan sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur pendukungnya.
Dongkrak Pariwisata, Jateng Benahi Infrastruktur Pendukung
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 11 April 2019  |  17:23 WIB
Dongkrak Pariwisata, Jateng Benahi Infrastruktur Pendukung
Tampak luar terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/6). - Bisnis/Yustinus Andry

Bisnis.com, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot pembangunan dan pemberdayaan sektor pariwisata melalui pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sri Puryono meyakini, sektor pariwisata mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi strategis bagi daerah.

“Pariwisata juga bisa mendorong pertumbuhan pembangunan wilayah yang memiliki potensi alam dan potensi sejarah. Muaranya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sri Puryono saat memberi sambutan pada pembukaan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Hasil Riset Strategi Pengembangan Pariwisata Jateng, di Gedung BI Perwakilan Jateng, Kamis (11/4/2019).

Dia menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang melalui pintu Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang pada Januari-November 2017 sebanyak 22.951 orang.

Sementara itu pada Januari-November 2018, sebanyak 20.829 orang wisman, terjadi penurunan sebanyak 2.122 orang atau 9,25%. Sebaliknya, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang mengunjungi Jateng naik sekitar 24% pada tahun 2018 atau mencapai 49.7 juta orang jauh lebih banyak dibanding kunjungan Wisnus pada 2017 yakni 40.1 juta orang.

Terkait infrastruktur pendukung, kata dia, daya tampung Bandara Ahmad Yani lebih banyak, nyaman, dan bagus. Selain itu, rute-rute internasional yang langsung dari dan ke Semarang memberikan peluang positif. 

Untuk transportasi air melalui Pelabuhan Tanjung Emas, tercatat semakin banyak kapal pesiar yang berlabuh, serta reaktivasi beberapa jalur Kereta Api di Jateng yang sebelumnya tidak difungsikan.

“Kalau daerah atau wilayah itu ingin berkembang, maka kembangkan perdagangan, kemudian kembangkan pariwisata dan investasi. Sektor pariwisata sangat penting,” tambahnya.

Dari diseminasi hasil riset tersebut, diharapkan dapat diperoleh informasi komprehensif dan kritis, mulai akar persoalan hingga solusi yang berujung pada kreasi dan inovasi terhadap sektor pariwisata di Jateng. Khususnya Sangiran, Borobudur, Dieng, Karimunjawa, yang merupakan prioritas Jateng dan bisa dikelola sebagai obyek wisata berkelas dunia.

“Saya berharap, diseminasi ini akan dapat membantu pariwisata Jateng berjaya menjadi magnet dunia. Kami optimistis, dari urun saran panjenengan sami (masukan saran anda sekalian). Tahun 2019 ini, target 1,2 juta Wisman berkunjung ke Jateng akan terlampaui,” katanya.

Sementara itu, Kepala BI Jateng Soekowardojo mengatakan, kawasan Joglosemar (Jogja, Solo dan Semarang) ditetapkan pemerintah sebagai salah satu destinasi wisata prioritas, dengan Candi Borobudur sebagai pusatnya dan didukung tiga Kawasan Strategis Baru Nasional (KSBN) lain, yaitu Dieng, Karimunjawa dan Sangiran.

“Untuk itu, kami memandang perlu adanya suatu kajian dalam mengidentifikasi tantangan daya dukung dan strategi pengembangan keempat KSBN itu, secara terintegrasi dalam rangka optimalisaai penerimaan devisa pariwisata Jateng,” katanya.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa tengah, pelabuhan tanjung emas, bandara ahmad yani semarang

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top