Ngabuburit di Masjid Kapal Semarang

Sebuah masjid yang berbentuk kapal Nabi Nuh, di Jalan Kyai Padak RT 5 RW V, Kelurahan Podorejo Semarang, menjadi salah satu tempat favorit masyarakat untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  13:15 WIB

Bisnis.com, SEMARANG – Sebuah masjid yang berbentuk kapal Nabi Nuh, di Jalan Kyai Padak RT 5 RW V, Kelurahan Podorejo Semarang, menjadi salah satu tempat favorit masyarakat untuk menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.

Dua tahun lalu, masjid kapal atau masjid Safinatun Najah sempat viral di media sosial kerena keindahannya dan dari bentuk arsitektur kapalnya.

Konon bangunan masjid ini dibangun karena terinspirasi dari bahtera Nabi Nuh. Tak hanya mirip sebuah kapal, bangunan ini lengkap dengan jendela berbentuk bulat berjumlah 74 , buritan, haluan yang terdiri dari tiga lantai.

“Wah bagus banget ya, mirip kapal,” kata Soepartini, salah satu pengunjung yang datang untuk ngabuburit, beberapa waktu lalu.

Tanpa basa-basi, ia dan sanak keluarganya langsung mengambil smartphone dari dalam tas untuk mengabadikan moment bersama keluarga dengan latar belakang masjid kapal.

“Kebetulan saya berkunjung ke tempat saudara di Semarang, sekalian saja mampir kesini karena penasaran,” ucap pengunjung asal Ngawi ini.

Sekitar pukul 15.00 petang, beberapa penjual makanan dan souvenir yang merupakan warga sekitar pun mulai berdatangan untuk mencari pundi-pundi rejeki dari wisatawan yang datang. 

Maklum saja, semakin sore atau mendekatai waktu Magrib masjid ini ramai orang ngabuburit bahkan, tak jarang pengunjung melakukan shalat berjamaah di masjid tersebut.

“Semakin sore, nanti semakin ramai mas. Apalagi kalau hari libur seperti saat ini,” kata Rokhimin salah seorang penjaga masjid.

Memasuki gerbang masjid kini sudah terkena tiket masuk, tertulis Rp3.000, untuk tiket masuk, dan Rp2.000, untuk tiket parkir roda dua. Masjid kapal ini pun seolah menjadi destinasi wisata religi. 

Masjid kapal sendiri terdiri dari bangunan tiga lantai, dengan panjang kurang lebih 50 meter dengan lebar 17 meter dan tinggi 14 meter dan berdiri dilahan seluas 2.500 meter persegi. 

“Bangunan ini punya banyak fungsi, pada lantai pertama untuk ruang pertemuan dan kegiatan sosial lainnya, lantai dua untuk masjid dan lantai tiga direncanakan untuk sebuah sekolah kejuruan dan balai kerja,” jelasnya.

Meski sudah berdiri kokoh, masjid ini hanya menjadi jujukan ngabuburit. Tidak ada shalat tawarih, dan tadarus.

Alasannya, Masjid Kapal sendiri terletak jauh dari perkampungan ada di tengah hutan dan persawahan, juga sudah ada masjid besar di kampung sebagai pusat kegiatan ibadah Ramadan.

“Saat ini fokusnya menjadi tempat kegiatan sosial, ada pengobatan gratis setiap minggunya. Beberapa waktu lalu  juga ada fashion show busana muslim dari Magelang disini,” ucapnya.

Bangunan masjid sendiri, lanjut dia, merupakan milik seorang Kyai bernama Kyai Achmad. Tujuan pembangunan masjid sendiri, tidak hanya untuk tempat ibadah, melainkan punya banyak fungsi seperti bahtera Nuh yang memiliki banyak fungsi ruangannya.

“Jadi sambil mengingat sejarah, untuk kembali mengajak mengingat Tuhan, dan dibuatlah masjid ini dengan fungsi bangunan lainnya di tiga lantai,” katanya.

Rokhimin menambahkan, pesan dari Kyai Achmad masjid tersebut beserta bangunan lainnya bisa dimanfaatkan oleh warga secara gratis seperti untuk pertemuan, hajatan, dan resepsi pernikahan.

“Masjid ini ada tiga lantai, lantai pertama untuk ruang pertemuan, bisa buat rapat, atau acara lain. Bahkan kata Pak Kiai, bisa untuk resepsi warga,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semarang, ngabuburit

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top