Visa Progresif Turun, Minat Umrah Diyakini Meningkat

Penurunan visa progresif untuk calon jamaah haji ataupun umrah, diprediksi bisa membuat minat masyarakat untuk berumah menjadi tinggi. Hal ini dikarenakan, jika sebelumnya jamaah umrah yang selama tiga tahun melakukan umrah akan dikenai visa progresif sebesar 2 ribu real, mulai tahun ini tidak dikenai biaya tambahan.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 12 September 2019  |  20:21 WIB
Visa Progresif Turun, Minat Umrah Diyakini Meningkat
Suasana Masjidil Haram diambil dari Balcony The Makkah Clock Tower Museum, Mekah, Arab Saudi, Jumat (6/9/2019). Pascamusim haji, Masjidil Haram kini dipadati jamaah umrah yang datang dari berbagai negara. ANTARA - Hanni Sofia

Bisnis.com, com, SEMARANG - Penurunan visa progresif untuk calon jamaah haji ataupun umrah, diprediksi bisa membuat minat masyarakat untuk berumah menjadi tinggi. Hal ini dikarenakan, jika sebelumnya jamaah umrah yang selama tiga tahun melakukan umrah akan dikenai visa progresif sebesar 2 ribu real, mulai tahun ini tidak dikenai biaya tambahan.

Endro Dwi Cahyono, Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Jateng-DIY, mengatakan jika mulai 9 September lalu, kerajaan Arab Saudi menghapuskan kebijakan pajak progresfif yang sebesar 2 ribu real bagi jamaah umrah yang umrah dalam tiga tahun berturut-turut.

“Kebijakan ini tentunya disambut suka cita, karena biaya Rp8 juta atau sebesar 2 ribu real dihilangkan. Tentunya dilain sisi akan menambah minat masyarakat untuk menjalankan umrah lagi,” katanya Kamis (12/9/2019).

Meski bisa menambah minat masyarakat untuk melakukan ibadah umrah, khusunya masyarakat menengah keatas. Kebijakan ini juga akan berimbas pada naiknya biaya umrah, hal ini dikarenakan ada kebijakan-kebijakan baru yang muncul setelah kebijakan visa progresif dihapuskan.

Misalnya saja, muncul kebijakan pajak pemerintah Arab Saudi sebesar 300 real, basic ground servis sebesar 105 real, visa elektronik sebesar 93 real dan lainnya.

“Jika ditotal nilainya hampir 500 real atau jika rupiahkan sekitar Rp2 jutaan, kebijakan ini berlaku bagi semua jamaah yang baru pertama kali umrah ataupun lebih dari sekali. Padahal dulu nilainya hanya Rp800.000, sehingga ada margin Rp1,2 juta dan membuat biaya umrah mengalani kenaikan,” tuturnya.

Karena kenaikan beberapa biaya tambahan, tersebut secara tidak langsung diprediksi akan mengurangi minat masyarakat status menengah kebawah. Pihak asosiapun tidak bisa berbuat banyak, dan hanya bisa berharap adanya lobi-lobi dari pemerintah.

“Dulu batas aman atau batas bawah biaya umrah dari Kemenag sebesar Rp 20 juta, dengan naiknya beberapa komponen ini tentu akan menaikkan biaya umrah minimal menjadi Rp21,2 juta,” tuturnya.

Selain biaya tambahan, belum lama ini pemerintah Arab Saudi juga melaunching E Visa. E Visa ini, setiap jamaah ataupun biro perjalanan umrah, harus melampirkan kode booking hotel, dan bus yang bisa dicek secara online.

“Kebijakan ini cukup mendadak dan tidak ada sosialisasi, karena belum banyak hotel ataupun bus yang memiliki kode booking atau belum semua terdaftar,” jelasnya.

Karena belum semua hotel atau bus memiliki kode booking, dipastikan untuk keberangkatan calon jamaah umrah disisa tahun ini akan terkena biaya tambahan sebesar 20 real per orang dikalikan lama menginap, serta 30 real untuk bus.

“Jelas untuk yang sudah mau berangkat terkena biaya tambahan, tentu akan bikin kaget dan cukup kami sesalkan. Namun saya yakin hotel dan bus disana, akan cepat mengurus perijinan kode booking. Sehingga kedepan tidak akan ada biaya tambahan lagi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
umrah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top