Kongres Sampah Lahirkan 4 Rekomendasi

Sidang Komisi dalam Kongres Sampah mengeluarkan empat rekomendasi untuk menyelesaikan permasalahan sampah.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  21:17 WIB
Kongres Sampah Lahirkan 4 Rekomendasi
Ilustrasi: Petugas membersihkan sampah di Sungai Pelayangan, Depok, Jawa Barat, Selasa (13/8). - Antara/Asprilla Dwi Adha

Bisnis.com, SEMARANG—Sidang Komisi dalam Kongres Sampah mengeluarkan empat rekomendasi untuk menyelesaikan permasalahan sampah.

Kongres Sampah yang berlangsung di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu-Minggu (12-13/10) terbagi dalam lima komisi. Setiap komisi melakukan pembahasan isu yang berbeda secara mendalam perihal permasalahan sampah, dan kemudian memberikan rekomendasi sebagai langkah solutif.

“Pada sidang komisi sesi pertama ini ada empat rekomendasi yang kami berikan. Soal edukasi persampahan terutama soal pemilahan, alat angkut, fasilitas termasuk TPA [tempat pembuangan akhir] yang representatif, dan dukungan anggaran dari pemerintah,” papar Putut Yulianto, panitia Kongres Sampah, Sabtu (12/10/2019).

Keempat rekomendasi tersebut dikeluarkan beserta turunannya yang dihasilkan oleh lima komisi yang membahas isu berbeda.

Komisi I membahas sampah sebagai komoditas ramah lingkungan. Komisi II membahas pengembangan ilmu dan teknologi penanganan sampah.

Komisi III membahas regulasi, kebijakan, dan program penanganan sampah yang ramah lingkungan. Komisi IV membahas penguatan konsolidasi dan sinergi pemangku kepentingan persampahan. Komisi V membahas gerakan anti sampah non-organik.

“Sidang komisi ini masih akan berlanjut sampai besok dan akan memberikan rekomendasi final pada Gubernur Jawa Tengah untuk kemudian diterbitkan dalam kebijakan,” katanya.

Lima Komisi tersebut terdiri dari akademisi, aktivis, pengusaha dan dari unsur pemerintah. Salah satunya adalah Natalia Desi, pegawai Balai PSDA Bodri Guto yang masuk di Sidang Komisi V.

Dia mengatakan persoalan mendasar yang mesti dilakukan adalah edukasi persampahan terhadap masyarakat, terutama soal pemanfaatan yang bukan sekadar persoalan komersial.

“Kalau kita pahami lebih ke lingkungan. Kalau itu sudah dipegang aspek lain akan menyusul. Gerakan lebih dari hati. Sekarang kan influencer banyak yang bergerak di situ. Lebih peka terhadap sampah saja. Semoga seperti warga Desa Kesongo yang peduli lingkungan,” ujarnya.

Apa yang telah jadi budaya di Desa Kesongo memang jadi alasan mendasar dipilihnya desa tersebut jadi tuan rumah Kongres Sampah. Masyarakat sudah mampu memilah sampah sejak dalam rumah.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pun berharap desa lain untuk meniru apa yang telah dilakukan desa yang terletak di antara Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo itu. Bahkan dia berjanji bakal mengunjungi desa yang menerapkan hal serupa.

“Jika ada yang mendeklarasikan desa bersih, saya kunjungi. Tolong didaftar desa itu. Gerakan ini akan kita dengungkan terus menerus,” paparnya.

Ganjar mengatakan Kongres Sampah ini merupakan upayauntuk menuntaskan persoalan sampah di Jawa Tengah bahkan Tanah Air. Selain di bertempat di desa yang telah membudayakan pengelolaan sampah secara baik, semua elemen masyarakat juga dilibatkan, dan bakal dijadikan rujukan menerbitkan kebijakan.

“Ini baru awal untuk menghimpun seluruh pemikiran. Dan hasil dari ini akan kita jadikan regulasi agar daerah kita jadi bersih. Mari kita duduk bersama menyelesaikan persoalan ini agar kehidupan lebih baik menyambut pembangunan berkelanjutan,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sampah

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top