Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Disuntik Vaksin Covid-19 Bikin Meriang, Ini Penjelasan Kadinkes DIY

Perbedaan jenis vaksin Covid-19 ikut memberikan perbedaan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 03 Desember 2021  |  23:05 WIB
Ilustrasi: Peserta program vaksinasi Covid-19. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Ilustrasi: Peserta program vaksinasi Covid-19. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Hingga saat ini, masih ada sebagian warga yang takut divaksin Covid-19 karena mengkhawatirkan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DI Yogyakarta, Pembayun Setyaning Astuti, mengimbau masyarakat untuk tidak termakan hoax atau kabar bohong.

“Memang kadang-kadang orang lebih memilih Sinovac karena KIPI-nya tidak banyak, paling pusing dan mual. Kalau Moderna, Pfizer, kadang-kadang istilahnya sampai tepar, demam dua hari. Tetapi sebenarnya secara efikasinya itu memang lebih besar yang tadi [Moderna dan Pfizer],” jelas Pembayun dalam diskusi yang digelar secara daring pada Jumat (3/12/2021).

Pembayun menjelaskan bahwa di Indonesia sendiri ada beberapa jenis vaksin Covid-19 yang digunakan. Setiap jenis memiliki karakter dan KIPI yang berbeda-beda pula. “Seperti Sinovac, Sinopharm, atau Corona Vac itu adalah bagian dari virus yang sudah dimatikan. Tetapi kalau Moderna, Pfizer, atau Johnson & Johnson yang belum masuk di Yogyakarta, itu adalah bagian dari DNA virus yang dimatikan,” jelasnya.

Penerima vaksin Covid-19 akan mengalami reaksi yang berbeda-beda, tergantung oleh kondisi tubuh juga jenis vaksin yang digunakan. “Bayangkan saja, kalau kita kecucuk (tertusuk) duri, duri ini anggap saja makhluk hidup. Dia benda yang hidup, dia akan bereaksi lebih cepat daripada ketika kita kemasukan sedikit benda mati. [Sebab benda mati] itu tidak ada reaksi yang seberapa,” jelas Pembayun memberikan perumpamaan.

Meskipun vaksin Covid-19 jenis Sinovac banyak dicari, khususnya di DI Yogyakarta. Pembayun berharap agar masyarakat dapat segera mengikuti program vaksinasi tanpa harus memilih-milih vaksin yang akan digunakan.

Menurut Pembayun, meskipun setiap vaksin memiliki potensi terjadinya KIPI. Namun, hingga saat ini, KIPI yang terjadi di DI Yogyakarta masih dalam kategori wajar. “Memang itu salah satu dampak yang ringan, jadi cuma lapar, mengantuk. Tetapi kalau sudah mulai demam, kemudian ada rasa pegal, bengkak, itu [masuk kategori] sedang. Ada juga [kategori KIPI] yang berat, tetapi di Yogyakarta tidak ada KIPI berat,” ungkapnya. 

Pada kesempatan tersebut, Pembayun juga menyampaikan bahwa proses vaksinasi Covid-19 dosis pertama di DI Yogyakarta sudah mencapai 94,14 persen. “Dosis kedua kita sudah ada di 79,19 persen,” tambahnya.

Meskipun program vaksinasi sudah berjalan dengan cukup baik, namun Pembayun tetap mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menggunakan masker serta menerapkan protokol kesehatan dengan baik. “Kalau herd immunity sudah terjadi, tetaplah, sepanjang pemerintah belum menyampaikan bahwa pandemi ini berakhir, tetap maskernya dipakai,” ucapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksinasi Covid-19
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top