Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Pariwisata Jateng Optimistis Sambut 2022

Kalangan pengusaha melihat indikasi pemulihan. Namun, varian baru Covid-19 masih jadi ancaman.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 29 Desember 2021  |  12:25 WIB
Warga mengusung tumpeng dan ingkung ayam saat tradisi Merti Desa Petarangan di puncak bukit Botorono kawasan lereng gunung Sumbing, Petarangan, Kledung, Temanggung, Jateng, Jumat (26/11/2021). Tradisi merti desa rutin dilaksanakan warga setempat sebagai ungkapan rasa syukur berakhirnya musim tembakau dan permohonan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan. - Antara/Anis Efizudin.
Warga mengusung tumpeng dan ingkung ayam saat tradisi Merti Desa Petarangan di puncak bukit Botorono kawasan lereng gunung Sumbing, Petarangan, Kledung, Temanggung, Jateng, Jumat (26/11/2021). Tradisi merti desa rutin dilaksanakan warga setempat sebagai ungkapan rasa syukur berakhirnya musim tembakau dan permohonan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan. - Antara/Anis Efizudin.

Bisnis.com, SEMARANG - Penanggulangan pandemi Covid-19 yang dilakukan pemerintah telah memberikan angin segar bagi pelaku usaha di Tanah Air, tak terkecuali bagi pengusaha di sektor pariwisata.

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), berharap agar kinerja positif tersebut dapat ikut mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2022 ke depan.

"Jawa Tengah itu ternyata sudah 76 persen untuk [vaksinasi Covid-19] yang lengkap [2 dosis]. Jadi sudah cukup baik dan kita harapkan dengan vaksinasi ini akan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi kita ke depannya," ucap Hariyadi, Senin (27/12/2021).

Harapan tersebut menyimpan optimisme tersendiri. Pasalnya, hingga tahun 2021 kinerja sektor pariwisata di Tanah Air tercatat mengalami kontraksi.

"Untuk wisatawan mancanegara ini turunnya sangat drastis. Di 2019 itu, kita masih mendapatkan kunjungan sekitar 16,1 juta orang, di 2020 itu drop 74,84 persen, dan di 2021 turun lagi. Pada Januari-Oktober [jumlah kunjungan wisatawan mancanegara] hanya 1,2 juta orang," jelasnya. Diperkirakan, hingga akhir Desember tahun ini, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hanya menyentuh angka 1,5 juta.

Hariyadi menjelaskan bahwa indikasi pemulihan sektor pariwisata nasional sudah mulai terlihat pada Kuartal IV/2021. Meskipun sempat terkontraksi akibat penyebaran coronavirus varian Delta, kini jumlah kunjungan wisatawan baik di hotel ataupun restoran sudah mulai mengalami kenaikan yang signifikan.

"Sampai dengan bulan Juni itu sudah membaik, pasti di Juli-September itu drop karena varian Delta. Tetapi kami meyakini di Oktober-Desember ini sudah mulai bergeliat naik, mulai bagus. Jadi perkiraan kami di 2021 ini kondisinya secara keseluruhan masih lebih baik dari 2020," jelas Hariyadi dalam acara Solopos Virtual Talkshow dengan tema 'Outlook Pariwisata 2022: Tantangan Wujudkan Wisata Berkualitas'.

Sugeng Sugiantoro, Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Provinsi Jawa Tengah, mengamini bahwa kinerja sektor perhotelan di tahun 2021 sudah menunjukkan gejala pemulihan.

"Mulai tahun 2021 ini sudah mulai bisa berkegiatan lagi kalau di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Mulai bulan September, posisinya teman-teman yang di kota yang punya meeting room sudah mulai bisa tersenyum lah. Karena pemerintah sering membuat Focus Group Discussion dan pelatihan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, itu sangat membantu sekali," jelasnya.

Sugeng menambahkan bahwa rencana pembukaan akses wisatawan mancanegara di Bali beberapa waktu lalu sempat memberikan angin segar bagi pelaku usaha sektor pariwisata di Jawa Tengah. "Tapi kita semua tahu, bahwa kebijakan pembukaan international border itu tidak berhasil sampai sekarang, karena harus dikarantina dan sebagainya," tambahnya.

Secara umum, Sugeng menjelaskan bahwa sektor pariwisata di Jawa Tengah telah siap untuk kembali beraktivitas seperti dahulu. Namun, pihaknya masih terus menunggu serta mengikuti kebijakan pemerintah terkait penanganan pandemi Covid-19. "Ini mudah-mudahan bisa berjalan. Kita bisa diberi kepercayaan, dunia pariwisata ini, bahwa kita bagian dari pemerintah untuk memitigasi potensi-potensi penularan Covid-19. Jadi kami diberi kesempatan untuk berkegiatan lagi supaya perekonomian juga tumbuh," jelasnya.

Proyeksi Okupansi Tembus 40 Persen

Sebelumnya, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Jawa Tengah Bambang Mintosih, optimis bahwa tingkat hunian atau okupansi kamar hotel di wilayah tersebut bakal kembali moncer di tahun 2022. "Sekitar 40-50 persen lah, karena memang pariwisata itu yang paling cepat terdampak, tetapi juga paling cepat recovery," jelasnya ketika dihubungi Bisnis.

Secara khusus, wacana pemerintah untuk mulai menyuntikkan booster vaksin Covid-19 juga telah memberikan sentimen positif bagi dunia pariwisata di Tanah Air. Menurut Bambang, hal tersebut akan memberikan rasa aman bagi masyarakat untuk bisa berkegiatan di luar ruangan, termasuk melancong ke luar kota. "Intinya sekarang kita menerapkan protokol kesehatan. Kita ketatkan, kita harus jaga optimisme. Tidak hanya pemerintah dan pelaku wisata, tetapi juga dari masyarakat," ucapnya.

Sinyal perbaikan okupansi kamar hotel sebetulnya telah terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah. Pada indikator Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Jawa Tengah, per Oktober 2021 angkanya telah mencapai 41,48 persen. Angka tersebut menunjukkan perbaikan jika dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya, dimana TPK Hotel Berbintang dilaporkan berada di 35,05 persen.

Di tengah momen perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Bambang memperkirakan bahwa okupansi kamar hotel di Jawa Tengah bisa melesat drastis. Pasalnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat libur Nataru pada tahun ini tidaklah seketat tahun 2020 lalu.

Pada tahun 2020 lalu, GIPI Provinsi Jawa Tengah mencatat okupansi kamar hotel selama PPKM berlangsung hanya berkisar di angka 10 persen. "Sekarang sudah di 25 persen. Jelang 2-3 hari sebelum Nataru itu biasanya sudah penuh," jelas Bambang.

Optimisme tersebut direspon kalangan pengusaha dengan berbagai macam cara. Sebagian mulai menyiapkan paket-paket wisata tematik. Sebagian lagi justru memilih untuk memperbaiki kamar-kamar hotel sebelum dikunjungi tamu untuk menginap.

"Jadi sudah banyak yang mulai repairing kamar, hire karyawan yang kemarin sempat dirumahkan. ini sudah terjadi di Jawa Tengah. Bahkan beberapa hotel ada juga yang menambah karyawan part-timer," jelas Bambang.

Di Jawa Tengah sendiri, pemulihan sektor pariwisata diperkirakan bakal lebih dulu dirasakan oleh pelaku usaha di kota-kota besar. Bambang menjelaskan bahwa Kota Semarang akan menjadi salah satu wilayah yang paling pertama merasakan gelombang pemulihan tersebut. "Solo itu sama, tetapi tidak secepat Semarang karena pusat MICE ada di sana, kegiatan bisnis juga," pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata wisata
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top