Manufaktur DIY Dinilai Mampu Siasati Tekanan Nilai Tukar

Pemda DIY melalui Disperindag DIY meyakini sejumlah perusahaan manufaktur yang berada di DIY dapat mengatasi persoalan pelemahan rupiah.
Sunartono | 07 September 2018 07:14 WIB
Ilustrasi.

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Pemda DIY melalui Disperindag DIY meyakini sejumlah perusahaan manufaktur yang berada di DIY dapat mengatasi persoalan pelemahan rupiah.

Jenis usaha di DIY yang didominasi usaha mikro kecil menengah (UMKM) diklaim tidak terkena dampak signifikan terhadap pelemahan rupiah karena sebagian besar bahan impor yang dipakai relatif kecil.

Kepala Disperindag DIY Tri Saktiyana menjelaskan sebagian besar usaha di DIY kelasnya UMKM atau industri rumahan. Jumlah perusahaan manufaktur dengan skalan besar sangat sedikit bahkan bisa dihitung dengan jari. Padahal industri rumahan yang saat ini berjalan hasil produknya adalah kerajinan. Sehingga biaya terbesar yang banyak dikeluarkan yaitu unsur tenaga kerja.

"Contohnya kain batik misal harganya Rp200.000 itu upah tenaga kerjanya Rp110.000, kemudian yang Rp90.000 itu bahan baku seperti kain, malam, warna dan lainnya. Nah dari Rp90.000 bahan itu yang harus diimpor dengan dolar itu paling cuma Rp5.000 untuk warna tertentu," ucapnya, Kamis (6/9/2018).

Sakti mengakui memang ada pengaruh pelemahan rupiah terhadap UMKM namun sangat kecil. Setiap produk UMKM diperkirakan hanya sekitar 2,5% saja bahan yang harus mengimpor karena lebih banyak menggunakan bahan lokal. UMKM yang mampu mengekspor dengan harga dolar justru akan mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. Sayangnya banyak UMKM di DIY yang ekspornya masih dibeli dengan kurs rupiah.

Berbeda dengan sejumlah perusahaan manufaktur skala besar seperti di Tangerang, Karawang, Surabaya maka dampaknya sangat terasa. "Ya ada memang kenaikan tetapi tidak seperti yang dirasakan seperti di kota-kota lain," ujarnya.

Ia mengatakan ada sejumlah perusahaan manufaktur di DIY dengan banyak komponen impor. Menurutnya, sejumlah perusahaan itu sebenarnya sudah berupaya menggunakan bahan dari lokal dengan mengurangi komponen impor. Tetapi mengimpor bahan memang masih dilakukan perusahaan tersebut.

Sakti meyakini sejumlah perusahaan manufaktur di DIY sudah berpengalaman dalam melewati proses krisis sehingga mereka sudah memiliki kiat untuk mengantisipasi kemungkinan adanya goncangan ekonomi. Sehingga Sakti yakin perusahaan manufaktur di Jogja akan tetap stabil dan tidak sampai berdampak pada PHK karyawan.

"Seperti Kubota itu kan perusahaan cukup lama sehingga berpengalaman menghadapi semacam ini," ucapnya.

Edy Suandi Hamid Anggota Paramparapraja DIY yang membidangi ekonomi menyatakan, DIY akan mendapatkan manfaat dari momentum pelemahan rupiah ini dengan banyaknya turis asing karena wisata aka dianggap murah oleh orang asing.

Edy menilai pelemahan rupiah itu terjadi karena banyak faktor dari luar negeri seperti Amerika yang membatasi impor barang dari negara lain. Apalagi saat ini impor mesin dan barang setengah jadi meningkat tajam, akibatnya neraca perdagangan kian defisit, ekspor barang lebih kecil daripada impor. Berbeda dengan sebelumnya hanya jasa yang defisit, sehingga butuh banyak devisa.

"DIY jelas terpengaruh, terutama adanya beberapa komoditas seperti tekstil dan bahan baku mengandung impor," katanya.

Sumber : JIBI/Harian Jogja

Tag : tekstil
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top