Membaca Ulang Frase Gitu Aja Kok Repot Ala Gus Dur

Puluhan ribu orang dari berbagai daerah hadir mengikuti acara Haul ke-9 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Stadion Sriwedari Solo, Jawa Tengah, Sabtu malam.
Mariyana Ricky Prihatina Dewi
Mariyana Ricky Prihatina Dewi - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  05:30 WIB
Membaca Ulang Frase Gitu Aja Kok Repot Ala Gus Dur
Warga dari berbagai daerah memadati area Stadion Sriwedari saat mengikuti acara Haul ke-9 Gusdur dan Srawung Kebangsaan, Solo, Sabtu (23/2) malam. Peringatan hari kematian Kanjeng Pangeran Aryo (K.P.A.) KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tersebut dihadiri sekitar 101.000 orang. - JIBI/Solopos/M. Ferri Setiawan

Bisnis.com, SOLO — Puluhan ribu orang dari berbagai daerah hadir mengikuti acara Haul ke-9 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Stadion Sriwedari Solo, Jawa Tengah, Sabtu malam.

Masyarakat yang mengikuti Haul Gus Dur tidak hanya memadati di dalam lapangan Stadion Sriwedari saja, tetapi mereka juga memadati di jalan-jalan sekeliling stadion untuk mendoakan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid.

Selain puluhan ribu masyarakat yang mengikuti Haul Gus Dur, juga hadir para tokoh dan kiai, antara lain ulama nasional asal Rembang KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Pimpinan Ponpes Al Muayyat Solo KH Abdul Rosaq Shofawi, Mahfud MD, Staf Ahli Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi Kemenag RI, Oman Fathurahman, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, Kapolda Irjen Condro Kirono, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Wali Kota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo.

Bahkan, Haul Gus Dur di Solo, juga dihadiri ibunda Presiden Jokowi, Sudjiatmi Noto Mihardjo, dan Putri Presiden RI ke-4 Gus Dur, Yenny Wahid.

Menurut Ketua Panitia, Hussein Syifa, acara Haul Gus Dur di Stadion Sriwedari merupakan puncak dari serangkai acara yang digelar sebelumnya bedah buku Gus Dur, kirab budaya, dialog kebangsaan, dan pengajian.

Adapun perihal sosok Gus Dur, sejumlah tokoh memberikan pemaknaan baru. K.H. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus mengatakan sosok Gus Dur yang dianggapnya orang besar, namun semua di matanya tampak kecil.

“Lha beliau ini selalu bilang gitu saja kok repot? Artinya semuanya itu hanyalah masalah kecil. Jangan dianggap repot," katanya.

Gus Mus juga mengingatkan asyarakat tak perlu membesar-besarkan gelaran lima tahunan pemilihan umum (Pemilu), baik Pilkada, Pileg, maupun Pilpres. Pesta demokrasi itu seharusnya tidak memunculkan permusuhan hingga mengajak Allah untuk berpolitik.

“Takut kalah sampai mengancam Allah itu artinya tidak pernah membaca Alquran. Memangnya Allah hanya sebesar Candi Borobudur? Padahal, jelas dalam kitab tertulis tidak ada ketakutan yang bisa mengalahkan Allah. Kita itu sangat kecil. Kecil sekali. Jangan berlebihan, pilkada pilpres itu jangan dianggap berat,” kata dia di hadapan puluhan ribu gusdurian saat puncak haul ke-9 K.H. Abdurrahman Wahid di Stadion Sriwedari, Sabtu (23/2/2019).

Gus Mus juga mengingatkan sosok Gus Dur selalu bilang gitu saja kok repot? Artinya semuanya itu hanyalah masalah kecil. Jangan dianggap repot. "Pilkada, pemilu saja kalian anggap akbar. Padahal ada Allah Yang Maha Besar, Maha Akbar. Jangan lupakan itu,” kata dia.

Selain dihadiri Gus Mus, haul tersebut juga mengundang Mahfud MD. Dalam sambutannya, Mahfud menyebut Gus Dur tak hanya negarawan yang cinta negara tapi juga politikus ulung.

“Gus Mus bahkan pernah berkata beliau adalah politikus paling canggih. Budayawan, cendekiawan, dan sebutan bapak pluralisme, diberikan secara resmi di pemakaman Gus Dur oleh Presiden SBY. Tapi dia tidak pernah peduli, dengan gelar itu. Dianggap cendekiawan tapi beliau hanya menganggap dirinya wisatawan” kata dia.

Mahfud menyebut dari sekian banyak gelar untuk Gus Dur, sebutan yang paling tepat adalah bapak demokrasi Indonesia, karena dari awal Gus Dur meyakini pilihan yang tepat bernegara di Indonesia yang majemuk adalah demokrasi.

Pada acara itu Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo menyanyikan lagu Indonesia Pusaka bersama gusdurian diiringi tiupan saksofon Romo Aloysius Budi Purnomo Pr. Acara juga diselingi sembilan pernyataan sikap Gusdurian Soloraya, di antaranya menjaga kesatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gus dur

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top