Bisnis Jamu Herbal Jawa Tengah Diprediksi Cerah

Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi obat atau jamu herbal, dari pada obat kimiawi ternyata mempengaruhi bisnis jamu herbal di Jawa Tengah, dimana bisnis ini mengalami pertumbuhan sebesar 20% pada tahun 2018 lalu.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  20:53 WIB
Bisnis Jamu Herbal Jawa Tengah Diprediksi Cerah
Pameran produk bahan baku industri farmasi, pangan fungsional, serta produk nutrisi dan kesehatan pada CPhI South East Asia dan Hi South East Asia 2017 di Jakarta, Rabu (22/3). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, SEMARANG – Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi obat atau jamu herbal, dari pada obat kimiawi ternyata mempengaruhi bisnis jamu herbal di Jawa Tengah, dimana bisnis ini mengalami pertumbuhan sebesar 20% pada tahun 2018 lalu.

Junior Branch Manager PT. Jamu  Air Mancur, Widi Kusnantoyo mengatakan, pertumbuhan bisnis jamu herbal mengalami kenaikan karena mengkonsumsi jamu herbal dianggap lebih aman dibandingkan mengkonsumsi obat kimiawi, selain itu mengkomsumsi jamu telah menjadi gaya hidup masyarakat urban.

"Trend masyarakat saat ini lebih suka yang alami atau herbal, apalagi jamu merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang. Hal ini yang membuat bisnis jamu herbal kami mengalami pertumbuhan 20%,” katanya Selasa (26/2/2019).

Pertumbuhan bisnis dalam industri pasar industri herbal, lanjut Widi, juga ditunjang dengan banyaknya bahan baku yang ada di Indonesia atau Jawa Tengah. Misalnya saja saja PT. Jamu Air Mancur yang mendapatkan bahan baku dari petani atau mitra yang berasal dari wilayah Jawa Tengah. 

"Industri herbal ini, juga mengembangkan perekonomian dari hulu dan hilir,” tuturnya.

Salah satu produk yang menjadi andalan atau market adalah jamu jenis serbuk berupa jamu bersalin, jamu cair masuk angin. Selain itu pihaknya mengaku melakukan inovasi untuk memperluas pangsa pasar anak muda atau generasi milenial dengan mengeluarkan produk jamu ekstraksi. 

"Kontribusi penjualan terbesar masih di Jawa Tengah untuk jamu serbuk dan jamu cair, bebeberapa produk kami misalnya jamu bersalin lengkap malah menjadi market leader di luar Jawa,” ucapnya.

Widi mengungkapkan jika pada tahun ini ditargetkan ada kenaikan dari segi penjualan sebesar 20% dibandingkan tahun 2018. Target tersebut dianggap realistis meski harus bersaing dengan industri farmasi, menurut dia indutusri jamu herbal sendiri punya pangsa pasar tersendiri.

"Kami yakin bisa bersaing dengan kompetitor ataupun produk farmasi, apalagi saat ini habit masyarakat lebih mencari produk yang minim efek samping dengan produk herbal,” tuturnya.

Sementara itu, Brand Manager PT. Jamu Air Mancur, Aries Ikawati Arifah mengatakan jika kebutuhan industry obat herbal di Indonesia diperkirakan akan meningkat berlipat dengan permintaan pangan fungsional. Salah satunya terlihat dari tren mengonsumsi obat herbal di masyarakat, salah satunya jamu.

Dari data yang dimiliki Kementrian Perindustrian juga menyatakan omzet industry obat herbal nasional di 2011 telah mencapai Rp11 triliun, dan meningkat hingga Rp20 triliun pada 2015. 

"Tren kembali ke alam juga gencar disuarakan dunia internasional, sehingga permintaan terhadap produk herbal semakin meningkat di negara maju maupun berkembang,”ucapnya.

Dia menjelaskan jika produk dari PT. Jamu Air Mancur memiliko standard bertaraf internasional yang diakui oleh dunia yaitu ISO 9001: 2015, mengenai sistem manajemen mutu, yang memastikan pedoman operasional terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas sehingga bisa diterima oleh masayarakt Indonesia dan dunia.

"Pangsa pasar internasional juga terbuka lebar untuk produk kami,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jateng, jamu

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top