Ini Profil Emiten Asal Jawa Tengah

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada sekitar 10 emiten asal Jawa Tengah yang mempersiapkan diri untuk melakukan penjualan saham perdana atau Initiap Public Offering (IPO).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  21:45 WIB
Ini Profil Emiten Asal Jawa Tengah
Pejalan kaki berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, SEMARANG—Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada sekitar 10 emiten asal Jawa Tengah yang mempersiapkan diri untuk melakukan penjualan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

Sejumlah perusahaan tersebut akan menyusul 10 emiten lainnya yang sudah bersatus sebagai perusahaan publik atau terbuka (Tbk).

Berdasakan penelusuran Bisnis, kesepuluh emiten yang berstatus Tbk. tersebut adalah PT Golden Flower Tbk. (POLU), PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM), PT Dua Putra Makmur Tbk. (DPUM), PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR), dan PT Phapros Tbk. (PEHA).

Selanjutnya, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL), PT Kota Satu Properti Tbk. (SATU), PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk. (CARS), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR).

Golden Flower merupakan perusahaan garmen yang melayani sejumlah merek global, seperti Calvin Klein, Ann Taylor, J.Kru, Tommy Hilfiger, Ralp Lauren, dan DKNY. POLU melepaskan sahamnya ke publik pada 26 Juni 2019, dan memeroleh dana Rp43,2 miliar.

Pahpros merupakan emiten farmasi, yang 56,77% sahamnya dimiliki oleh PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF). PEHA melepas sahamnya ke publik pada 26 Desember 2018

Adapun, Kota Satu merupakan perusahaan properti yang lebih berfokus dalam bisnis pengelolaan hotel. SATU melepas sahamnya ke publik pada 5 November 2018.

Perusahaan properti DFAM juga mencatatkan sahamnya pada tahun lalu, tepatnya 27 April 2018. Dari aksi IPO, DFAM memeroleh dana Rp46 miliar.

Prima Cakrawala Abadi adalah perusahaan sektor perikanan yang berfokus ke produk olahan rajungan dengan orientasi pasar ekspor. PCAR resmi menjadi emiten pada 29 Desember 2017.

Dari sektor perikanan, juga ada DPUM merupakan perusahaan pengolahan produk kelautan, yakni ikan, udang, dan chelapoloda seperti gurita serta cumi-cumi. Perusahaan berbasis di Pati itu melantai di BEI pada 8 Desember 2015.

CARS adalah perusahaan perdagangan dan jasa, khususnya terkait mobil. Bintraco juga memiliki layanan purna jual seperti bengkel dan penyediaan spare part. CARS menjadi emiten pada 10 April 2017.

Adapun, SIDO atau lebih dikenal dengan nama Sido Muncul, dirintis pada 1941 dengan produk jamu tolak angin. Pada 1970 mulai membentuk CV, dan pada 1975 berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). SIDO  melantai di bursa pada 18 Desember 2013.

Sri Rejeki Isman juga merupakan perusahaan tekstil yang melegenda. Berdiri sejak 1966, SRIL kini mengekspor produknya ke lebih dari 100 negara. Perusahaan resmi IPO pada 17 Juni 2013.

Sarana Menara Nusantara bergerak di sektor penyewaan menara dan infrastruktur telekomunikasi. TOWR resmi menjadi perusahaan publik pada 8 Maret 2010.

Berikut Data Performa Saham dan Kapitalisasi Pasarnya (per 17 Juli 2019)

Ticker

Harga IPO

Harga

(17/6/2019)

YTD (%)

Kapitalisasi Pasar

(Rp)

POLU*

288

1.010

250,69

757,50 miliar

DFAM

115

845

-3,98

1,5 triliun

DPUM

550

128

0

534,40 miliar

PCAR

150

2.430

-54,58

2,84 triliun

PEHA

1.198

1.760

-37,37

1,48 triliun

SIDO

580

990

17,86

14,85 triliun

SRIL

240

344

-3,91

7,04 triliun

SATU

117

116

-17,14

145 miliar

CARS**

1.750

236

-15,71

3,54 triliun

TOWR***

1.050

750

8,7

38,26 triliun

*IPO pada 26 Juni 2019

**CARS stock split 1:10 pada 13 Juni 2019

***TOWR stock split 1:5 pada 3 Juli 2018


Menanti Emiten Baru
Kepala Kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Semarang Fanny Rifqi menyampaikan, kegiatan investasi pasar modal di Jawa Tengah cenderung bertumbuh. Hal ini ditunjukan dengan kenaikan jumlah investor baru dan kenaikan transaksi.

Di sisi lain, BEI Semarang juga berupaya memacu kelahiran emiten baru. Saat ini, sudah ada 10 emiten asal Jawa Tengah yang melantai di BEI dan memperdagangkan sahamnya ke publik.

Fanny menyampaikan, hampir setiap pekan pihaknya menemui 3—4 perusahaan di Jateng, dengan maksud sosialisasi dan perencanaan IPO. Tampaknya, ada sekitar 10 perusahaan yang berminat melakukan IPO, meskipun kemungkinan tidak terealisasi pada 2019.

Tujuan utama perusahaan IPO ialah ekspansi usaha, seperti menambah kapasitas mesin atau pabrik. Kesepuluh emiten itu berasal dari berbagai sektor industri seperti makanan dan minuman (mamin), benih, pupuk, properti, manufaktur, dan pembiayaan.

“Ada sekitar 10 yang minat IPO, cuma mungkin tidak tahun ini. Mereka butuh persiapan internal terlebih dahulu, sebelum menjadi perusahaan terbuka,” tuturnya.

Dia menambahkan, terkadang ada perusahaan yang belum percaya diri untuk IPO karena asetnya masih di bawah Rp100 miliar. Menurut Fanny, sebetulnya perusahaan justru dapat semakin termotivasi untuk menjadi lebih besar setelah menjadi perusahaan terbuka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten, jawa tengah

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top