Pengumpulan DPK Kian Menantang, Dana Pemda Dinilai Potensial

Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari masyarakat kian menantang di era suku bunga rendah. Namun demikian, ada dana potensial dari Pemerintah Daerah yang selama ini lebih banyak disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  14:34 WIB
Pengumpulan DPK Kian Menantang, Dana Pemda Dinilai Potensial
Karyawati menghitung uang pecahan Rp100.000 di salah satu kantor cabang milik Bank Mandiri, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, SEMARANG—Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari masyarakat kian menantang di era suku bunga rendah. Namun demikian, ada dana potensial dari Pemerintah Daerah yang selama ini lebih banyak disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Regional CEO Bank Mandiri Jateng & DIY Maswar Purnama menyampaikan, salah satu hal yang menjadi tantangan industri perbankan ialah penghimpunan dana masyarakat. Secara sederhana, bisnis bank ialah mengumpulkan dana di masyarakat, kemudian menyalurkannya dalam bentuk kredit.

Keuntungan dan biaya operasional bank diambil dari selisih kedua instrumen tersebut. Di era suku bunga yang cenderung menurun, kinerja pengumpulan dana dari masyarakat kian menantang.

Nasabah menginginkan bunga deposito tetap 7% untuk keuntungan jangka panjang. Di sisi lain, bank harus menyesuaikan besaran bunga dengan keputusan 7DDR, yang diperkirakan akan turun dalam 6 bulan ke depan.

“Masyarakat ingin dana yang sifatnya panjang, sedangkan bank ingin jangka pendek karena harus menyesuaikan dengan suku bunga yang turun. Makanya kta harus pandai siasati ini,” tuturnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga gencar menerbitkan obligasi dengan bunga yang menarik hingga 8,75%. Artinya, bank selain bersaing dengan perusahaan sejenis juga mengalami “perang bunga” dengan pemerintah

Menurut Maswar, pihaknya tidak akan terlalu ambil pusing soal perang bunga. Hal yang terpenting ialah meningkatkan servis, sehingga konsumen semakin loyal terhadap Bank Mandiri. Jumlah nasabah BMRI di Jateng dan DIY mencapai 2,7 juta orang.

Dia pun melihat, ada dana potensial dari Pemerintah Daerah yang dapat disalurkan ke perbankan BUMN, dari sebelumnya hanya ke BPD. Dengan bermitra dengan bank BUMN seperti Mandiri, Pemda mendapat kepastian penyaluran kredit.

Pasalnya, Loan to Deposits Ratio (LDR) Bank Mandiri mencapai 97%, sedangkan BPD berkisar 70%. Kredit dari Bank Mandiri tentunya akan disalurkan untuk proyek-proyek di Jateng dan Yogyakarta, sehingga membantu perkekonomian daerah.

“Kami turut membantu perekonomian daerah. Ada baiknya dana taruh di kami, nantinya akan kami salurkan, sehingga perputaran uang makin banyak. Tentunya penyaluran dana komitmen ke wilayah Jateng dan DIY, sesuali wilayah kerja kami,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mandiri

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top