Residivis Pembunuhan Tewas Ditembak Polisi, Kerabat Sesalkan Tindakan Aparat

Keluarga Andri Novianto alias Wondri, residivis kasus pembunuhan yang meninggal karena tembakan polisi belum bersedia menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut polisi atas kematian pria 37 tahun itu.
Rudi Hartono
Rudi Hartono - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  18:23 WIB
Residivis Pembunuhan Tewas Ditembak Polisi, Kerabat Sesalkan Tindakan Aparat
Warga melayat ke rumah tempat disemayamkannya jenazah Andri Novianto atau Wondri di Bauresan RT 004/RW 002, Giritirto, Wonogiri, Rabu (21/8/2019). (Solopos - Rudi Hartono)

Bisis.com, WONOGIRI - Keluarga Andri Novianto alias Wondri, residivis kasus pembunuhan yang meninggal karena tembakan polisi belum bersedia menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut polisi atas kematian pria 37 tahun itu.

Keluarga baru sebatas menandatangani surat penyerahan jenazah Wondri. Kerabat Wondri, Marno, 60, saat ditemui Solopos.com di rumahnya yang menjadi tempat bersemayamnya jenazah Wondri, Rabu (21/8/2019), menyayangkan tindakan polisi menembak Wondri.

Dia menyadari keponakannya residivis dan berperilaku tak terpuji, tetapi menurutnya bukan berarti hidupnya harus diakhiri dengan cara seperti itu. Dia mengaku belum bersedia memenuhi permintaan polisi untuk menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut atas kematian Wondri.

wondriAndri Novianto alias Wondri. (Istimewa/Polres Wonogiri)

Hal itu karena keluarga belum bermusyawarah akan menuntut atau menerima. Dia sebatas menandatangani surat penyerahan jenazah dari polisi dan RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.

“Polisi bilang itu jalan satu-satunya yang bisa ditempuh karena saat itu Wondri merebut senjata petugas. Yang dimaksud jalan satu-satunya itu mungkin menembak Wondri. Kata polisi Wondri merebut senjata petugas. Kalau benar begitu bukannya bakal ada korban dari pihak polisi. Tapi nyatanya kan tidak,” kata Marno.

Wondri ditembak dua kali di bagian depan tubuhnya karena merebut senjata polisi yang mengawalnya kemudian mengacungkan senjata itu ke arah polisi. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (20/8/2019) malam saat polisi menggelandang Wondri ke tempat indekosnya guna mencari barang bukti kasus penganiayaan yang dilakukan Wondri.

Wondri sebelumnya ditangkap karena berbuat onar di toko aksesori handphone (HP) tak jauh dari Pasar Kota Wonogiri, Selasa malam. Karena dianggap mengancam nyawa petugas dan masyarakat, polisi menembak Wondri di bagian depan tubuhnya setelah sebelumnya memberi tembakan peringatan yang tak digubris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
raperda sampah

Sumber : Solopos.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top