Tarif Pesawat dan Bawang Merah Topang Rendahnya Inflasi DIY

Turunnya tarif tiket pesawat dan harga bawang merah membuat inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung rendah.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 04 September 2019  |  09:33 WIB
Tarif Pesawat dan Bawang Merah Topang Rendahnya Inflasi DIY
Petani mengeringkan bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/5/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, SEMARANG—Turunnya tarif tiket pesawat dan harga bawang merah membuat inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung rendah.

Pada Agustus 2019, inflasi DIY cenderung terjaga sebesar 0,07% month to month (mtm). Dengan realisasi tersebut, laju inflasi sepanjang 2019 mencapai 1,87% year to date (ytd) dan inflasi tahunan sebesar 2,94% year on year (yoy).

“Rendahnya inflasi pada periode Agustus utamanya disebabkan oleh deflasi kelompok administered prices dan volatile food,” papar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kantor DIY Hilman Tisnawan dalam siaran pers, Selasa (3/9/2019) malam.

Kelompok administered prices tercatat deflasi sebesar -1,15% (mtm), utamanya dipicu oleh penurunan tarif angkutan udara. Memasuki periode low season, inflasi angkutan udara kembali mengalami penurunan sebesar -15,75% (mtm).

Hal ini menjadi rekor baru, karena tarif angkutan udara pada Agustus 2019 menjadi yang terendah sepanjang 2019. Penurunan batas atas angkutan udara maupun diskon tarif pada waktu yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat mulai menunjukkan hasil dalam pengendalian inflasi angkutan udara.

Rendahnya inflasi pada Agustus 2019 turut ditopang oleh kelompok volatile food yang mengalami deflasi sebesar -0,56% (mtm). Rendahnya inflasi volatile food ini disebabkan oleh penurunan harga bawang merah (-16,81% mtm) dan tomat sayur (-40,05% mtm).

“Hal ini terjadi di tengah melimpahnya pasokan akibat sedang berlangsungnya musim panen,” imbuh Hilman.

Namun demikian, harga komoditas beras sebagai penyumbang inflasi utama di DIY tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,01% (mtm) dengan tingkat inflasi sebesar 0,35% (mtm).

Kondisi ini perlu diwaspadai, mengingat musim panen raya baru akan terjadi di kuartal I/2019 awal tahun mendatang.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sepanjang Agustus 2019 rata-rata harga bawang merah di tingkat produsen berkisar Rp10.200/kg dan di tingkat pengecer sebesar Rp22.100/kg. Dengan kondisi tersebut, perlu ada upaya-upaya konkrit dari seluruh pemangku kepentingan agar harga komoditas tetap stabil dan wajar, serta tidak merugikan petani.

Sementara itu, harga komoditas cabai rawit masih tercatat di level yang cukup tinggi, meskipun pada akhir Agustus 2019 diperkirakan harga cabai rawit akan berangsur turun seiring dengan terjadinya musim panen.

Di sisi lain, tercatat adanya peningkatan tekanan inflasi yang berasal dari kelompok inti dengan pencapaian sebesar 0,59% (mtm). Peningkatan inflasi inti merupakan fenomena nasional yang utamanya disebabkan oleh tarif pendidikan dan harga emas perhiasan.

Tarif pendidikan mulai dari SD (7,51% mtm), SMP (6,41% mtm), dan SMA (4,90% mtm) serentak meningkat, sejalan dengan siklus tahun ajaran baru. Berdasarkan trennya, tarif pendidikan pada tingkat dasar secara konsisten mengalami peningkatan paling tinggi, dengan rata-rata inflasi 4 tahun sebesar 9,92% (yoy).

Tingginya inflasi pendidikan dasar disebabkan oleh semakin maraknya sekolah swasta dan pendidikan berbasis internasional, sehingga tarif pendidikan cenderung menyesuaikan faktor global.

Sementara itu, harga emas perhiasan kembali meningkat 16,09% (mtm), menjadi peningkatan yang tertinggi setidaknya dalam 4 tahun terakhir. Memanasnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mendorong investor mengalihkan investasinya dalam bentuk emas.

Meskipun inflasi tercatat rendah dan stabil, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY senantiasa berkoordinasi dan bersinergi dalam menghadapi adanya potensi peningkatan inflasi ke depan seiring dengan terjadinya musim kemarau.

Oleh karena itu, TPID DIY berkomitmen untuk menjaga kelancaran distribusi pangan dan ketersediaan pasokan pangan yang tidak terlepas dari keterjangkauan harga bagi masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan antara lain melalui monitoring langsung kepada petani, pedagang besar dan eceran untuk kondisi distribusi dan pasokan pangan.

“Melalui upaya-upaya dan sinergi antara Pemda dan Bank Indonesia selaku pemangku stabilitas di daerah, kami meyakini inflasi DIY pada tahun ini akan tercapai pada sasaran target inflasi sebesar 3,5%±1% (yoy),” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, Inflasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top