Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jateng Optimis Ekspor Nonmigas Lampaui US$8 Miliar

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan kinerja ekspor 2019 melampaui target Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan pencapaian 2018 sebesar US$8,09 miliar.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 27 November 2019  |  16:25 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, SEMARANG—Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan kinerja ekspor 2019 melampaui target Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan pencapaian 2018 sebesar US$8,09 miliar.

Sepanjang Januari—September 2019, ekspor nonmigas Jateng meningkat 2,01 persen year on year (yoy) menjadi US$6.172,13 juta dari sebelumnya US$6.050,76 juta.

Dalam waktu yang sama, kinerja impor tumbuh lebih kecil, yakni hanya meningkat 0,22 persen yoy menuju US$6.579,43 juta dari posisi per September 2018 sebesar US$6.564,95 juta.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo, menyebutkan salah satu amanat dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ialah memperkecil defisit neraca dagang nonmigas.

“Per September 2019, defisit neraca dagang nonmigas mengecil menjadi US$407,3 juta, dibandingkan 2018 yang mencapai US$1.052,55 juta. Ini sudah sejalan dengan arahan RKPD,” ujarnya, Rabu (27/11/2019).

Pada 2019, target ekspor nonmigas berdasarkan RKPD mencapai US$6.303 juta. Menurut Arif, angka tersebut dapat terlewati, karena per September 2019 sudah mencapai 97,92 persen dari target. Bahkan, nilai ekspor nonmigas pada 2019 diperkirakan tumbuh melewati 2018 sebesar US$8.091,62 juta.

“Januari—September 2019, pencapaian ekspor sudah 97,92 persen dari target dan mencakup 76,28 persen dari realisasi 2018. Masih ada 3 bulan lagi, sehingga kami optimistis kinerja ekspor tahun ini lebih baik dari target RPKD, bahkan pencapaian 2018,” paparnya.

Di sisi lain, Arif berpendapat kendati kinerja impor cenderung lebih tinggi dibandingkan ekspor, aktivitas pembelian itu dilakukan secara tepat. Pasalnya, persentase impor untuk barang yang digunakan untuk memproduksi material lain atau barang modal cenderung meningkat.

Sepanjang Januari—September 2019, golongan penggunaan barang impor adalah bahan baku/penolong adalah 73,35 persen, barang modal 20,4 persen, dan barang konsumsi 6,25 persen. Komposisi ini lebih baik dibandingkan Januari—September 2018, dimana masing-masing komponen berkontribusi 81,6 persen, 11,52 persen, dan 6,88 persen.

“Peningkatan impor barang modal merupakan indikasi positif karena pelaku usaha ingin meningkatkan produktivitas melalui pembelian mesin, sekaligus mensubtitusi bahan baku dari luar negeri. Kini beberapa dari mereka sudah bisa memenuhi sendiri,” imbuhnya.

Misalnya, industri tekstil mulai memproduksi benang staple sendiri, sehingga mengurangi volume impor. Sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan andalan ekspor Jateng, karena menyumbang 43,89 persen atau US$2.708,86 juta dari keseluruhan penjualan.
 
Selanjutnya, kayu dan produk kayu berkontribusi 10,97 persen atau US$677,1 juta dan sektor alas kaki menyumbang ekspor 5,49 persen atau US$339,12 juta. Namun, ekspor alas kaki bertumbuh paling signifikan sebesar 38,57 persen yoy.

Menurutnya, peningkatan ekspor alas kaki sejalan dengan fenomena relokasi sejumlah pabrik ke Jateng dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan investasi itu tergambar dalam peningkatan kinerja ekspor.

Arif menambahkan, pembenahan neraca dagang Jateng juga berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sehingga dapat membantu pencapaian target 7 persen.

Pada kuartal III/2019, PDRB Jateng mencapai 5,66 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan persentase kuartal III/2018 senilai 5,1 persen yoy. Ekspor merupakan salah satu faktor pembentuk PDRB, sedangkan impor adalah faktor pengurang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top