Cegah Penularan Antraks, Dinas Pertanian DIY Perketat Lalu Lintas Ternak

Daerah bekas tempat matinya sapi secara mendadak di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul dilokalisasi oleh Dinas Pertanian Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  23:22 WIB
Cegah Penularan Antraks, Dinas Pertanian DIY Perketat Lalu Lintas Ternak
Bakteri Bacillus anthracis penyebab antraks. - Wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA — Menyusul adanya dugaan sapi yang terpapar antraks, Dinas Pertanian Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta melokalisasi daerah bekas tempat matinya sapi secara mendadak di Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul. 

Sampel tanah di daerah tersebut sebelumnya telah dinyatakan positif tercemar bakteri antraks. Lokalisasi serta pengetatan pengawasan lalu lintas ternak di kawasan yang diduga menjadi sumber antraks menjadi upaya menjaga tidak ada sapi di daerah atau kabupaten lain yang tertular wabah antraks.

"Kita lakukan sesuai SOP [Standar Operasional Prosedur] dengan memperketat lalu lintas ternak. Tidak boleh ternak keluar atau ternak masuk ke wilayah itu," kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian (Distan) DIY Kurnia Tejawati seperti dilansir Antara, Senin (13/1/2020).

Menurut Kurnia, sejak masih dugaan, upaya lokalisasi kawasan yang diduga terpapar antraks telah dilakukan. Harapannya, apabila dinyatakan positif antraks dampaknya tidak sampai meluas.

Pihaknya juga melakukan pengobatan dengan antibiotik terhadap hewan ternak yang berada di kawasan itu. 

"Kalau sudah selesai dan tidak ada kasus lagi di area itu, lalu dilakukan vaksinasi dan diulang setahun 2 kali dalam jangka waktu 10 tahun sejak kasus itu muncul," terang Kurnia.

Dia menyampaikan hingga saat ini, tidak ada laporan dari kabupaten lain yang menyebutkan adanya ternak sapi yang terpapar penyakit serius.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian DI Yogyakarta Anung Endah Suwati menambahkan untuk mencegah penularan sapi berpenyakit dari daerah lain, pihaknya mewajibkan seluruh ternak sapi yang masuk ke wilayah itu dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

"Virus atau bakteri masuknya tidak kelihatan sehingga ternak dari luar daerah harus memiliki SKKH. Selain itu, ternak dari luar juga harus dikarantina terlebih dahulu tidak bisa langsung dicampur dengan ternak di sini," jelasnya.

Berdasarkan hasil uji laboratorium dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, tertera bahwa tanah yang diambil dari lokasi kejadian sapi mati mendadak di Kecamatan Ponjong dinyatakan positif antraks.

"Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian dan Pangan sama-sama mengambil sampel, yakni tanah dan luka warga yang dirawat. Sampel tanah positif, sampel luka negatif kemungkinan sudah minum obat," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul DI Yogyakarta Dewi Irawati.

Namun, pihaknya masih menunggu hasil uji sampel darah warga Desa Gombang, Kecamatan Ponjong yang ikut mengonsumsi daging sapi yang diduga terpapar antraks.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yogyakarta, antraks

Sumber : Antara

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top