Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

NPL Soloraya 10,54 Persen, Disumbang Perusahaan Tekstil Telat Bayar Kredit

Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perbankan umum di Soloraya pada April 2020 menembus Rp8,59 triliun.
Farida Trisnaningtyas
Farida Trisnaningtyas - Bisnis.com 18 Juni 2020  |  13:51 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, SOLO - Kredit bermasalah atau macet perbankan umum di Soloraya tinggi disebabkan satu perusahaan tekstil di Kota Solo tidak memenuhi kewajiban angsuran alias telat bayar sejak September 2019.

Perusahaan itu memiliki nilai kredit yang besar sampai triliunan rupiah sehingga ketika performanya buruk langsung berimbas kepada performa kredit secara keseluruhan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perbankan umum di Soloraya pada April 2020 menembus Rp8,59 triliun. Angka tersebut mencapai 10,43 persen dari total nilai kredit perbankan umum di Soloraya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Eko Yunianto, penyebab rasio kredit bermasalah di perbankan Soloraya sangat tinggi adalah adanya salah satu debitur besar yang tidak lancar membayar kredit. Debitur besar yang merupakan perusahaan teksil itu telat bayar kredit sejak September 2019.

Eko menyebut kontribusi perusahaan teksil itu mencapai 30% terhadap total nilai kredit bermasalah atau sekitar Rp2,58 triliun.

"Penyebabnya [kredit macet tinggi] adalah salah satu debitur besar di bidang tekstil yang tidak lancar membayar kredit sejak September 2019 lalu. Terlebih satu debitur ini kontribusinya mencapai 30 persen terhadap total jumlah debitur yang tidak lancar lainnya. Kondisi ini sangat memengaruhi NPL secara keseluruhan lantaran outstanding loan-nya besar," jelas dia saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (17/6/2020).

Eko menjelaskan persentase kredit bermasalah di Soloraya pada April 2020 naik signifikan dari rasio kredit bermasalah pada April 2019 yang hanya 2,31 persen. Bahkan, rasio NPL ini lebih besar daripada rasio NPL Jawa Tengah yang hanya 4,96 persen.

OJK telah berkoordinasi dengan industri jasa keuangan dalam melakukan monitoring terhadap angka kredit bermasalah yang semakin memburuk tersebut.

Menurutnya, jika kondisi ini tak segera diperbaiki, bakal berdampak pada pengurangan potensi pendapatan industri jasa keuangan. “Kondisi pandemi akibat virus Covid-19 ikut memengaruhi perbankan di Soloraya,” imbuh dia.

Merespons data tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bambang Pramono, mengakui wabah pandemi Covid-19 berdampak pada sistem keuangan nasional. Salah satunya tercermin dari tingginya angka kredit macet atau NPL.

Hal itu seperti yang tengah terjadi di Soloraya. Rasio kredit bermasalah di Soloraya tinggi salah satunya disebabkan sebuah perusahaan tekstil telat bayar kredit.

“BI pun melakukan mitigasi dampak Covid-19. Antara lain, penurunan suku bunga BI7DRR, stabilisasi nilai rupiah, pasar uang dan valas, pelonggaran likuiditas, makroprudensial, dan sistem pembayaran,” jelas dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solo kredit macet npl

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top