Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Potret Inflasi Jateng Menjelang Lebaran 2021

Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan inflasi Jawa Tengah pada Maret 2021 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 12 Mei 2021  |  11:36 WIB
Sejumlah warga membeli berbagai jenis makanan ringan atau camilan di kompleks Pasar Legi Parakan, Temanggung, Jateng, Sabtu (1/5/2021). Sepuluh hari menjelang Lebaran penjualan makanan ringan melonjak hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. - Antara/Anis Efizudin.
Sejumlah warga membeli berbagai jenis makanan ringan atau camilan di kompleks Pasar Legi Parakan, Temanggung, Jateng, Sabtu (1/5/2021). Sepuluh hari menjelang Lebaran penjualan makanan ringan melonjak hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. - Antara/Anis Efizudin.

Bisnis.com, SEMARANG - Inflasi Provinsi Jawa Tengah pada bulan April 2021 tercatat sebesar 0,04 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,08 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Pribadi Santoso mengatakan, realisasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan rerata lima tahun terakhir yang sebesar 0,12 persen (mtm).

Kendati demikian, inflasi Jawa Tengah secara tahunan masih tercatat lebih tinggi 1,52 persen (yoy) dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,42 persen (yoy).

"Berdasarkan kelompok pengeluaran, penurunan inflasi Jawa Tengah pada Maret 2021 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan harga Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran," kata Pribadi melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu (12/5/2021).

Sementara itu lanjutnya, walaupun masih menjadi kontributor deflasi bagi Provinsi Jawa Tengah, Kelompok Transportasi mulai mencatatkan peningkatan tekanan harga dibandingkan bulan lalu.

Penurunan tekanan harga yang signifikan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau terutama disebabkan oleh meredanya tekanan harga komoditas hortikultura, di antaranya cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah.

Inflasi cabai merah dan cabai rawit yang berlangsung sejak November 2020, telah berbalik arah menjadi deflasi seiring dengan pulihnya pasokan produksi di Kabupaten Temanggung, Magelang, Banjarnegara, serta Brebes.

Selanjutnya, harga komoditas beras juga terus mengalami penurunan seiring dengan masa panen raya yang masih berlangung hingga bulan April 2021 diantaranya di Kabupaten Grobogan, Demak, dan Blora.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan (Kementan, Kemendag, Bulog) untuk melaksanakan program Serap Gabah (SERGAB) dalam rangka memitigasi risiko rendahnya harga gabah di tingkat petani, mengingat kualitas gabah yang relatif memburuk akibat tingginya curah hujan pada masa fenomena La Nina.

"Penurunan indeks harga bahan makanan tersebut selanjutnya menahan inflasi Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran, lebih rendah dari tren historis hari raya keagamaan," jelasnya.

Di sisi lain, deflasi pada Kelompok Transportasi juga masih berlangsung pada bulan laporan, walaupun intensitasnya lebih kecil dibandingkan bulan Maret lalu. Insentif Pemerintah berupa penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil masih menahan laju inflasi di Jawa Tengah.

Selanjutnya, kebijakan Pemerintah dalam memberlakukan pembatasan mobilisasi masyarakat antar daerah juga turut menahan inflasi pada komoditas jasa transportasi seperti angkutan udara, kereta api, dan angkutan antar kota, yang secara historisnya meningkat tinggi pada periode perayaan hari besar keagamaan.

"Walaupun tekanan inflasi masih rendah, terdapat potensi risiko peningkatan inflasi khususnya dari faktor eksternal. Harga komoditas di pasar internasional mulai mengalami peningkatan diantaranya komoditas jagung, kedelai dan crude palm oil (CPO)," ujarnya.

Komoditas jagung dan kedelai yang menjadi komponen utama pakan ternak masih terus melanjutkan tren inflasi yang tinggi sejak Mei 2020, akibat gangguan produksi di Amerika Serikat dan Brazil. Peningkatan juga terjadi pada harga komoditas minyak goreng di domestik akibat penurunan produksi CPO di Malaysia.

"Untuk menjaga inflasi tetap rendah dan terkendali, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah akan terus melakukan empat (empat) kunci pengendalian inflasi yaitu menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, memastikan kelancaran distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat, khususnya pada periode hari raya keagamaan. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga inflasi Jawa Tengah pada tahun 2021 tetap berada pada kisaran sasaran inflasi 3,0%±1%," katanya. (k28)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi jateng Mudik Lebaran
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top