Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Perdagangan Jawa Tengah Naik Signifikan

Pada Juni 2021, nilai ekspor mengalami kenaikan 29,24 persen (m-to-m). Perbaikan permintaan produk migas dan non-migas juga mempengaruhi kenaikan impor bahan baku dan barang modal. Secara yoy, nilai impor Jawa Tengah dilaporkan mengalami kenaikan hingga 157,10 persen.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 02 Agustus 2021  |  16:18 WIB
Kinerja Perdagangan Jawa Tengah Naik Signifikan
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah. - Antara/Aditya Pradana Putra
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan kinerja ekspor di Jawa Tengah pada Juni 2021 lalu. Indikator kinerja ekspor baik secara month-to-month ataupun year-on-year dilaporkan mengalami pertumbuhan.

“Juni tahun 2021, ekspor Jawa Tengah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan bulan Mei 2021 (m-to-m) maupun dibandingkan dengan Juni 2020 (yoy),” jelas Sentot Bangun Widoyono, Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Senin (2/8/2021).

Tak hanya mencatatkan pertumbuhan positif, kinerja ekspor Jawa Tengah pada bulan Juni 2021 juga mencatatkan angka tertingginya dibandingkan periode yang sama selama dua tahun ke belakang.

Berdasarkan data BPS Provinsi Jawa Tengah, nilai ekspor pada bulan Juni 2021 dilaporkan mencapai US$ 838,96 juta. Angka tersebut mengalami kenaikan 29,24 persen apabila dibandingkan dengan nilai ekspor pada bulan Mei 2021 (m-to-m). Bahkan, angka tersebut naik pesat secara year-on-year. Dimana kenaikan nilai ekspor mencapai 32,70 persen apabila dibandingkan dengan bulan Juni 2020.

“Kenaikan ini tentunya disebabkan oleh kedua kelompok, yaitu migas maupun non-migas. Dimana kelompok migas meningkat sebesar 15,76 persen dibandingkan Mei 2021 dan meningkat 24,49 persen untuk kelompok non-migas,” jelas Sentot dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual.

Sebanyak 5 komoditas non-migas yang mengalami peningkatan nilai ekspor adalah pakaian jadi bukan rajutan dengan US$38,91 juta, barang-barang rajutan dengan US$30,88 juta, kayu dan barang dari kayu dengan US$16,31 juta, serta serat stafel dan mesin peralatan listrik yang masing-masing nilai ekspornya meningkat US$14,32 juta dan US$12,26 juta.

“Kenaikan ini mungkin juga pengaruh dari kenaikan beberapa ekonomi negara tujuan utama [ekspor] kita. Misalnya Amerika Serikat, kita mungkin sudah membaca bahwa Amerika Serikat pada Triwulan II mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi year-on-year lebih dari 6 persen, akibatnya meningkatkan permintaan dan bersyukur bahwa peningkatan permintaan komoditas dari Jawa Tengah juga meningkat sampai US$87,12 juta,” jelas Sentot.

Selain Amerika Serikat, kenaikan permintaan ekspor tersebut juga datang dari Jepang, Tiongkok, Inggris, dan India. Sementara itu, penurunan permintaan ekspor produk Jawa Tengah justru datang dari Perancis, Rusia, Tanzania, Jerman, dan Djibouti.

Peningkatan permintaan Amerika Serikat atas produk Jawa Tengah semakin memperkuat posisi negara tersebut sebagai negara utama tujuan ekspor. Berdasarkan data BPS Provinsi Jawa Tengah, ekspor ke Amerika Serikat mencapai 39,01 persen dari keseluruhan nilai ekspor Jawa Tengah.

Pada perkembangan lainnya, aktivitas impor di Jawa Tengah juga mencatatkan kinerja positif. Berdasarkan data BPS, nilai impor mengalami kenaikan hingga 157,10 persen (yoy). Nilai impor Jawa Tengah pada bulan Juni 2021 dilaporkan mencapai US$ 1.236,38 juta. Apabila dibandingkan dengan bulan Mei 2021, terjadi kenaikan 60,06 persen.

Laporan tersebut menunjukkan geliat pemulihan industri manufaktur di Jawa Tengah. Pasalnya, komoditas impor didominasi oleh barang pendukung dan modal industri. “Komoditas utama yang mengalami kenaikan itu adalah komoditas barang input dari kebutuhan industri, seperti gandum-ganduman yang meningkat US$ 23,44 juta dibanding Mei 2021,” jelas Sentot.

Meskipun demikian, industri manufaktur Jawa Tengah masih menghadapi sejumlah tantangan. Seperti kenaikan freight cost serta kelangkaan kontainer. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah, Frans Kongi, menyebutkan bahwa kenaikan freight cost bahkan terjadi hingga 500 persen.

Untuk menangani masalah tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, Arif Sambodo, menyebutkan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi dengan pemerintah pusat. “Kami dengan Pak Gubernur sudah membuat surat ke Kementerian Perdagangan. Pemerintah Provinsi sudah mengusulkan bahwa untuk biaya-biaya kontainer, ekspor, dan sebagainya mohon ada kebijakan khusus,” jelasnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Penyebaran Covid-19 juga menjadi tantangan tersendiri di sektor industri. Pasalnya, tingginya jumlah pekerja serta mobilitasnya, semakin meningkatkan resiko penularan Covid-19. Secara tidak langsung, hal tersebut berpengaruh pada tingkat produktivitas industri.

“Kita ketahui bersama, bahwa di Jawa Tengah ini klaster [kasus Covid-19] terbanyak yang pertama, yang paling banyak sampai dengan saat ini, masih klaster keluarga. Yang kedua adalah klaster pekerja. Perusahaan, perkantoran, tempat kerja, ini merupakan klaster kedua, sehingga memang betul-betul menjadi prioritas [penanganan],” jelas Yulianto Prabowo, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (30/07/2021) pekan lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur ekspor jateng
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top