Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Eksplorasi Akulturasi Budaya Melalui Batik Lasem

Untuk menghidupkan Batik Lasem, Ganjar menilai perlu dilakukan upaya-upaya untuk membuatnya semakin relevan dengan perkembangan tren.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 02 November 2021  |  15:33 WIB
Eksplorasi Akulturasi Budaya Melalui Batik Lasem
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Ketua Dekranasda Jateng Siti Atikoh (kiri) dan Ketua Dekranasda Rembang Hasiroh saat membuka acara Rembang Fashion Parade 2021, Selasa, (2/10 - 2021). Foto: Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG — Batik Lasem melambangkan akulturasi budaya yang tergambar dari motif batik dan pemilihan warna. Budaya China dan Arab menyatu dengan budaya Jawa dalam selembar kain batik. 

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan bahwa selama ini Batik Lasem khas Kabupaten Rembang telah banyak dikenal oleh para penggemar kain wastra nusantara. Jika ingin dikenal lebih luas lagi, perlu disusun narasi yang menarik terkait dengan budaya maupun latar belakang di balik sejarah perkembangan Batik Lasem. 

“Orang mendengar Batik Lasem itu agar menjadi narasi. Yuk bikin event, agar Lasem itu bisa jadi destinasi wisata budaya,” ujarnya saat membuka acara Rembang Fashion Parade 2021 yang disiarkan secara virtual dari Balai Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang, Selasa (2/10/2021). 

Ganjar mengapresiasi penerbitan buku “Memadukan Keberagaman Dokumentasi Motif Modifikasi Batik Tulis Lasem” yang difasilitasi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah. 

Menurutnya, buku yang membahas tentang kekayaan motif Batik Lasem tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan bagi siapapun yang ingin mempelajari budaya yang terekam dalam batik khas Rembang tersebut. 

Untuk menghidupkan Batik Lasem, Ganjar juga menilai perlu dilakukan upaya-upaya untuk membuatnya semakin relevan dengan perkembangan tren. Salah satunya, mengolah kain batik menjadi busana siap pakai yang sesuai dengan preferensi anak-anak muda saat ini. 

“Dulu, sekitar tahun 1970-1990-an, kurang lazim memakai baju batik yang dipadukan dengan celana jeans. Dulu pun baju batik modelnya lengan panjang semua. Sekarang sudah bermacam-macam sekali modelnya,” katanya.

Selain Batik Lasem, Ganjar menilai perlu menampilkan kekayaan budaya batik dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Setiap wilayah memiliki beragam motif khas yang berbeda-beda, seperti Batik Solo yang dikenal dengan motif-motif geometris dan motif khas keraton, batik gaya Temanggung dan Wonosobo yang khas dengan motif gunungan, serta batik pesisir pantura bagian barat yang dikenal dengan motif khas batik pesisir.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Dekranasda Kabupaten Rembang dan sejumlah institusi lainnya, berupaya meningkatkan nilai tambah Batik Lasem dengan mengolahnya menjadiproduk fesyen.

Para pengrajin batik mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari desainer, agar kemudian mampu mengolah kain batik menjadi busana bernilai ekonomi tinggi.

Rangkaian pendampingan yang diberikan oleh Dekranasda kepada pengrajin batik di Rembang meliputi sejumlah kegiatan seperti fasilitasi sertifikasi standar komeptensi kecakapan kerja nasional Indonesia untuk Batik Lasem, penguatan dan pendampingan kelembagaan koperasi, pelatihan usaha produktif bidang batik dan fesyen tingkat dasar dan tingkat lanjut serta batik geometris, dan pelatihan serta pendampingan fashion designer.

Selain itu, Dekranasda juga mendukung penyusunan buku Batik Rembang, menggelar pelatihan bisnis fesyen, menyelenggarakan bimbingan teknis marketing online dan magang desain fesyen, memfasilitasi promosi dan pemasaran melalui beberapa event baik online maupun offline, serta menyusun katalog fesyen dan pemotretan produk fesyen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm jateng
Editor : Farodlilah Muqoddam
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top