Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Persebaran PMK di Jateng, 848 Ternak di Kota Semarang Positif Terinfeksi

Secara swadaya, peternak berupaya menangani ternak yang terjangkit dengan berbagai cara. Dari isolasi hingga pemberian jamu tradisional.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 04 Juli 2022  |  14:51 WIB
Persebaran PMK di Jateng, 848 Ternak di Kota Semarang Positif Terinfeksi
Dokter hewan dari Dinas Pertanian Kota Padang menyiapkan vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK). - Antara/Muhammad Arif Pribadi.

Bisnis.com, SEMARANG – Dinas Pertanian Kota Semarang mencatat hingga Minggu (3/7/2022) sore, ada 848 hewan ternak di wilayah tersebut yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

"Yang masih aktif kasusnya ada 726, yang terpaksa kami potong ada 36," jelas Hernowo Budi Luhur, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Senin (4/7/2022).

Hernowo mengungkapkan ada 13 ekor hewan ternak yang mati akibat PMK di Kota Semarang. Sementara itu, jumlah ternak yang sembuh dari PMK mencapai 73 ekor. 

"Artinya ya masih mau makan, sudah menunjukkan sehat. Tapi ya kadang beberapa symptom-nya masih ada," jelas Hernowo. 

Hernowo menyebut cepatnya penyebaran PMK di Kota Semarang disebabkan oleh karakter virus yang mampu menular dengan banyak media. Tak hanya dengan kontak langsung, virus PMK dilaporkan mampu menyebar melalui udara. Bahkan, radius transmisinya bisa mencapai enam kilometer.

"Belum lagi dari sarana atau benda, dari kandang sehat ke tidak sehat, jadi menempel di mobil, di orang. Itu bisa menjadi pembawa virus PMK," jelas Hernowo.

Hernowo juga menjelaskan bahwa ada banyak kerugian yang dialami peternak akibat PMK tersebut. Jika menjangkiti ternak penghasil susu, produktivitas susu bisa berhenti total. Begitu pula ternak pedaging, yang berisiko mengalami penyusutan berat badan. "Itu saya yakin akan merugikan para peternak," ucap Hernowo. 

Di Kota Semarang sendiri, kasus PMK pertama kali ditemukan pada 12 Mei lalu. Ada tiga ternak yang dilaporkan positif. "Yang banyak terjadi di Kota Semarang ini pertama karena mau Iduladha banyak pedagang yang memasukkan hewan, membeli hewan baru dari pasar hewan," jelas Hernowo.

Pedagang hewan tersebut, menurut Hernowo, kerap luput melakukan pemeriksaan kesehatan. Pasalnya, dengan masa inkubasi virus selama 14 hari, bukan tidak mungkin hewan ternak yang dibeli tersebut telah terjangkit PMK namun belum menunjukkan gejala.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh peternak langsung. Isro, Ketua Kelompok Tani Ternak Mekarsari, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, mengungkapkan bahwa PMK pertama menjangkiti ternak-ternak di sekitar wilayahnya tepat seminggu setelah Idulfitri kemarin.

Isro sendiri memiliki delapan sapi dan semua ternak miliknya kini positif PMK. Bahkan, satu ekor sapi milik pria tersebut telah mati akibat PMK. Isro melakukan berbagai upaya untuk merawat ternak-ternak miliknya yang sakit. "Dengan upaya sendiri, dengan diminumi rempah-rempah," ucapnya.

Tak lupa, Isro juga berkomunikasi dengan petugas kesehatan dari dinas terkait. "Arahannya itu, kebersihan kandang dijaga. Tidak boleh main ke kandang yang masih sehat," ucap Isro.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) semarang jateng
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top